“.. Dan katakanlah: yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap…” (QS: 17.81).

“ Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada keutamaan, menyuruh kepada yang baik (ma’ruf) dan mencegah yang buruk (munkar), merekalah orang-orang yang menang (falah)”. (QS: 02.104)

“… Hanya api yang bisa menyalakan kayu, hanya kayu yang menyala yang bisa menyalakan kayu-kayu yang lain. Hanya yang hak yang bisa meyakinkan hati, hanya hati yang yakin yang bisa meyakinkan hati-hati yang lain…” (Isa Anshari).

“… Dengan demikian tugas hidup manusia menjadi sangat sederhana, yaitu beriman, berilmu dan beramal…” (Nurcholis Madjid).

Reaktulisasi Gerakan KOHATI (Ideologi dan Metodologi Gerakan)

Reaktulisasi Gerakan KOHATI

(Ideologi dan Metodologi Gerakan)[1]

Oleh: Wahyu Minarno[2]

Dua syarat utama bagi suksesnya perjuangan ialah: Keteguhan iman atau keyakinan kepada dasar, yaitu idealisme kuat, yang berarti harus memahami dasar perjuangan itu (ideologi), dan ketepatan penelaahan kepada medan perjuangan guna menetapkan langkah-langkah yang harus ditempuh, berupa program perjuangan atau kerja (metodologi).

Kegagalan dari sebuah perjuangan dapat dilihat dari dua hal, berhentinya perjuangan itu (stagnan, jumud) dan tidak adanya hasil dari perjuangan itu (absurd, sia-sia)

Niat yang baik, jika dalam pelaksanaannya tidak dengan metodologi yang bagus/tepat, maka hasilnya pasti tidak akan efektif.

Pendahuluan

KOHATI sebagai salah satu pilar HMI, memiliki fungsi dan peran khusus dalam menjalankan misi organisasi. Bukan berarti menegasikan aspek gender, kekhususan gerakan KOHATI memang lebih tepat sebagai fasilitator pembelajaran atau pendidikan (educations), penguatan dan pemberdayaan (empowering), serta pendampingan atau pembelaan (advokasi) terhadap masyarakat khususnya kaum perempuan. Advokasi sebenarnya hanya membutuhkan dua syarat, berani dan punya ilmu. Di tengah situasi yang arahnya semakin sulit diprediksikan, belum lagi faktor internal organisasi yang mengalami kemunduruan (untuk tidak menyebut sebagai kejumudan atau kebekuan kreatifitas pikiran dan progresifitas gerakan), KOHATI dituntut untuk kembali merefleksikan, mengevaluasi dan memproyeksikan ulang tujuan, target serta metodologi dari setiap gagasan gerakannya.

Mengurai permasalahan internal serta eksternal yang diasumsikan sebagai pangkal dari sunyinya gerakan KOHATI sekarang, belumlah cukup untuk memberikan jalan sehingga KOHATI benar-benar mampu mengobjektifikasikan nilai yang terkandung di dalam gagasan gerakannya.[3] Membutuhkan sebuah analisis yang tajam serta perencanaan tindakan prediktif-visioner sehingga setiap gerakan KOHATI nantinya dapat mencapai hasil yang efektif. Di samping itu, satu hal penting bagi gerakan KOHATI mendatang adalah nilai yang menjadi fondasi dasar dari setiap gerakannya, ideologi. Ideologi, mungkin membutuhkan re-empowering untuk dapat menggerakan niat dan semangat KOHATI. Untuk menjawab permasalahan di atas, ideologi dan metodologi gerakan menjadi penting bagi gerakan KOHATI mendatang.

Re-empowering Ideologi

Sebuah gerakan harus memiliki ideologi. Sebagai bagian dari HMI, KOHATI memiliki ideologi yang sama dengan HMI. Islam sebagai satu-satunya ideologi,[4] harus mampu menggerakkan, mengarahkan, menjadi pisau analisa, sekaligus dari Islam tersebut akan dilahirkan inspirasi-inspirasi gerakan. Pemahaman dan internalisasi ideologi sangat mempengaruhi komitmen dan konsistensi gerakan, tidak terkecuali gerakan KOHATI. Sejauh mana ideologi tersebut dipahami dan terbatinkan, sejauh itu juga sebuah gerakan akan besar, maju dan efektif.[5] Bagaimana KOHATI memahami dan bersikap terhadap ideologi?

  1. Ideologi harus berangkat dari pandangan dunia dan basis epistemologi yang jelas. Dalam hal ini Islam sebagai satu-satunya ideologi HMI, harus menjadikan nilai-nilai Islam sebagai dasar perjuangan dan gerakan KOHATI.[6]
  2. Perlu adanya penguatan ke dalam terhadap ideologi, sehingga kekuatan di dalam akan melahirkan dorongan kekuatan keluar. Wacana sebagai nutrisi penguat ideologi harus diperkaya, Islam harus selalu diinterpretasikan kemudian diaktualisasikan, tentu harus selalu dikontekstualisasikan dengan situasi dan perkembangan isu yang ada. Bagi KOHATI (HMI), dalam hal ini pemahaman lebih dalam terhadap NDP menjadi sangat penting.

Metodologi Gerakan

Niat baik akan baik juga hasilnya jika dilaksanakan dengan cara yang baik dan benar (tepat). Bagi gerakan KOHATI, ilmu tentang sebuah cara dalam menjalankan ide sangat penting. Sebab dengan itulah tingkat keberhasilan sebuah gerakan dapat diukur dan dievaluasi. Gerakan KOHATI harus memuat tiga hal pokok, pendidikan, empowering, dan advokasi. Tiga hal pokok tadi harus terjangkau dalam satu jenis atau bentuk program kerja KOHATI. Membicarakan mengenai metodologi gerakan, dalam ruang yang terbatas ini tentu tidak dapat secara detil. Berikut beberapa kerangka terkait dengan metodologi gerakan (sederhana dan lebih subyektif, hasil refleksi lapangan).

  1. Pemahaman terhadap realitas (fenomena atau fakta).
  2. Menangkap fenomena, untuk menemukan noumena di baliknya.
  3. Memilih dan melahirkan isu strategis, pengerjaan isu ini melingkupi pilihan proses (pendek, menengah,dan panjang). Isu dapat dianggap strategis apabila:
    1. Rasional, jangan hanya sebatas asumsi kosong dan main-main. Serius, berasarkan hasil pengamatan objektif di lapangan secara rasional.
    2. Relevan, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang sedang terjadi.
    3. Signifikan (penting, berdampak). Jika dilaksanakan akan berdampak apa? Jika tidak ditanggapi dan dilaksanakan, dampaknya apa? (positiv dan negativ).
    4. Dapat dipantau dan dievaluasi. Isu dan gerakan yang tidak dapat dipantau serta dievaluasi akan sulit untuk menemukan kelemahan atau kekurangan dalam sebuah gerakan. Tidak dapat mengambil pelajaran dari kegagalan dan keberhasilan gerakan.
  4. Isu yang harus menghegemoni. Isu tersebut, supaya dapat ditangkap, dicerna dan mempengaruhi masyarakat, maka isu tersebut harus bersifat hegemonik.[7] Bagaimana hegemoni itu? Sederhananya seperti ini.
    1. Artikulasi ke dalam (articulate in), maksudnya adalah bagaimana isu dapat terinternalisasi ke dalam diri para pengurus KOHATI. Frame yang sama dan pemahaman serta rencana yang sama terhadap tindak lanjut dan program kerj dalam rangka penanganan isu tersebut.
    2. Artikulasi ke bawah (articulate down), maksudnya bagaimana isu dan agenda-agenda kerja gerakan dapat terinternalisasi dan didukung sepenuhnya dalam pelaksanaannya oleh anggota KOHATI yang berada di bawah atau di luar kepengurusan (komisariat, korkom, lembag lain, dll).
    3. Artikulasi ke yang sejajar/silang (articulate across), isu juga harus ditransformasikan secara silang. Bagaimana isu dapat didengar, diperhatikan, difikirkan, diterima,kemudian dapat diajak bekerja sama di bawah gagasanpokok KOHATI olah gerakan atau organisasi-organisasi yang lain yang sejajar dengan KOHATI, khususnya gerakan atau organisasi-organisasi perempuan.
    4. Artikulasi ke atas (articulate on), isu harus ditransformasikan juga pada level yang lebih atas dari KOHATI (khususnya secara struktural dan relasional-struktural maupun non-relsional struktural).[8] Isu harus mempengaruhi birokrasi-birokrasi (pemerintah desa, kabupaten, provinsi, kalau bisa pusat) dan lembaga-lembaga keperempuanan yang lain yang sejajar dengan pemerintahan atau berada di bawah naungan pemerintahan.

Artikulasi,[9] menjadi sangat penting bagi sebuah gerakan sehingga selain penyampaian gagasan dari intelegensia dan masyarakat,[10] juga sebagai upaya untuk melakukan hegemoni.

  1. Analisa dan Perencanaan. Dalam sebuah gerakan perlu adanya analisa yang tajam dan jeli terhadap pra-masalah, masalah dan akar masalah. Setelah dilakukan analisa, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh sebuah gerakan sebelum bekerja secara keras, secara tuntas dan ikhlas di lapangan (aksi kongkrit, pelaksnaan program kerja), adalah perencanaan yang detil dan matang. Di dalam ilmu organisasi sering kita mendengar atau mendapatkan bahkan mungkin sering menerapkan adanya SWOT dan POAC. Catatannya adalah, seringkali kita belajar teori dan belum tentu kita mencoba menerapkan teori. Apalagi mengkombinasikannya dengan potensi, kapasitas dan keadaan di luar secara kontekstual dan relevan,
    1. Analisa SWOT, pentingnya melihat kapasitas (internal) dan kerawanan (eksternal). SWOT merupakan analisa yang banyak dikembangkan di Jepang sebenarnya. Hingga kini telah banyak organisasi ataupun lembaga-lembaga baik pemerintah maupun non-pemerintah menggunakan SWOT dalam melihat potensi kapasitas dan kerawanan sebelum merencanakan sebuah tindakan. Pada wilayah internal terdapat kekuatan dan kelemahan, sedangkan pada wilayah eksternal terdapat peluang dan tantangan. SWOT membaca keempat hal tersebut.
    2. POAC (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan kontrol. Supaya sistematis dan terarah serta terukur, POAC dibutuhkan dalam merancang atau mendesain agenda kerja (dalam hal ini realisasi gagasan KOHATI). Bagaimana gagasan yang ada diturunkan menjadi sebuah desain dan rancangan kerja yang sistematis serta terukur, kemudian hasil kerja difikirkan kembali dan menghasilkan desain yang berikutnya, dan seterusnya. Sehingga selalu ada penyempurnaan ketika terdapat kekurangan dan peningkatan ketika terdapat indikasi keberhasilan sebuah gerakan.

[1] Disampaikan dalam acara Sarsehan KOHATI dengan tema “Rektualisasi Gerakan KOHATI di Tengah Kejumudan Kader HMI-wati”. Yogyakarta 26 Oktober 2009.

[2] Kader HMI Cabang Yogyakarta, wahyoe_rakjat@yahoo.co.id. 081227880323.

[3] Objektifikasi maksudnya sama dengan apa yang terdapat di dalam konsep profetiknya Kuntowijoyo. Bagaimana sebuah nilai (meskipun itu kita “klaim” sebagai milik Islam), jika dibumikan atau diterapkan khususnya pada wilayah sosial, akan dirasakan tidak hanya oleh kalangan Islam saja. Namun penerapan nilai pada wilayah sosial tersebut juga dirasakan oleh kalangan di luar Islam, dan mereka menganggap hal itu sebagai hal yang wajar. Lihat Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika, (Yogyakarta: Tiara Wacana), 2006.

[4] Meletakkan Islam sebagai ideologi bukan berarti mensejajarkan Islam dengan ideologi-ideologi besar di dunia. Islam sebagai ideologi adalah Islam yang dijadikan sebagai fundamental value, selanjutnya ide, atau kumpulan ide yang ada dan menjadi ideologi, tetap komitmen dan konsisten dengan Islam tadi. Ideologi yang seperti itu, kalau bukan Islam apa lagi? Islam sebagai ideologi adalah Islam yang mampu menggerakkan, mengarahkan dan menuntun sekaligus menterjemahkan fenomena sosial.

[5] Suatu usaha dikatakan efektif apabila usaha tersebut memiliki dampak positif yang maksimal.

[6] Lihat: PB HMI, NDP HMI, (Jakarta: PB HMI), 1971.

[7] Bagaimana Iran mampu melakukan sebuah revolusi yang dahsyat, tentu tidak terlepas dari peran seorang intelektual yaitu Ali Syari’ati. Bagaimana pada waktu itu Syari’ati mampu melakukan hegemoni terhadap masyarakat Iran dengan konsep dan wacana yang ditawarkannya. Dengan demikian, dapat dikatakan Iran pada waktu itu berada di bawah skenario palanning Syari’ati. Ia mampu membaca realitas secara utuh, menemukan noumena di balik fenomena, memprediksi serta mengarahkan masyarakat kepada tindakan sosial menuju perubahan. Sebuah konsep yang sama juga terdapat di Itali. Antonio Gramsci dengan intelektual organiknya, bagaimana ia memberikan penjelasan mengenai apa itu hegemoni. Hegemoni yang sebelumnya hanya dilakukn oleh orang-orang tidak benar, bagaimana diterapkan oleh orang-orang yang tepat dan benar. KOHATI sekarang harus mampu melakukan hegemoni, jangan hanya terhegemoni. Sebab hegemoni menurut Gramsci adalah kepemimpinan secara intelektual dan moral. Jika kita dihegemoni oleh intelektual dan moral yang tidak baik, bagaimana? Lihat, Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2006. Antonio Gramsci, Selections from Prison Notebooks, (London), 1971.

[8] Bersifat struktural maksudnya seperti pemerintahan atau lembaga di bawah naungan pemerintah, khususny yang menangani perempuan atau terkait dengan perempuan. Relasional maksudnya yang ada kaitan atau hubungan (baik kerja sama atau yang lainnya) dengan KOHATI. Non-relasional berarti tidak ada hubungan, namun mungkin memiliki pengaruh dan otoritas terhadap sesuatu yang berhubungan dengan isu perempuan.

[9] Mengenai pentingnya artikulasi dan beberapa bentuk artikulsi ini, penulis sarikan dari hasil diskusi ringan dengan MM. Billah. MM. Billah adalah mantan anggota KOMNAS HAM RI dan senior di LP3ES sebagai ahli dan pakar penelitian di dalamnya bersama dengan Dawam Raharjo dan Tawang Alun.

[10] Bedakan antara intelektual dan intelegensia. Intelegensia adalah kelompoknya dan intelektual adalah manusianya,yang menjadi perwakilan sekaligus artikulator dari intelegensia. Contoh, HMI dan KOHATI adalah intelegensia, dan orang-orang yang sebagai artikulator adalah intelektualnya. Lebih lanjut tentang intelektual dan intelegensia lihat, Yudi Latief, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim di Indonesia, (Mizan).

Nasionalisme atau Neoliberalisme?

Nasionalisme atau Neoliberalisme?

Oleh: Wahyu Minarno

Tujuh puluh dua siswa dengan setelan kaus dan celana training bermerk Adidas terpanggang terik matahari. Tak ada senyum di wajah yang mulai menghitam itu. Peluh mengalir deras membasahi kostum berwarna merah dan putih yang masih berkilat tertimpa sinar surya (KOMPAS, 7/8).

Fenomena sangat menarik kembali muncul di hadapan kita. Menarik karena di satu sisi fenomena ini merupakan wujud dari kecintaan masyarakat terhadap tanah air, sehingga terkesan tidak ada yang janggal. Namun dari sisi lain fenomena tersebut, jika diperhatikan, mengandung unsur yang merupakan bagian dari persoalan besar bangsa Indonesia. Hal yang sebenarnya cukup memprihatinkan jika dilihat secara jeli. Menjelang peringatan hari kemerdekan RI ke-63, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul menggelar latihan baris berbaris secara rutin sebagai persiapan memperingati hari kemerdekaan RI. Melalui pendelegasian sebanyak delapan siswa, Gunung Kidul terpilih sebagai anggota Paskibraka di tingkat Provinsi.

Dengan mengunakan setelan bermerk Adidas, semangat nasionalisme teraktualisasikan melalui persiapan dalam memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul pun mengalokasikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk kegiatan tersebut. Apakah terlalu anti terhadap kapitalisme sehingga dalam menilai setiap fenomena selalu menggunakan pisau analisis sosial, atau sekedar kebetulan terlintas dalam fikiran, Mengapa harus menggunakan setelan dengan merk Adidas?

Sebagian besar pelajar yang mengenakan setelan tersebut mungkin tidak memahami fenomena yang terjadi. Guru, bahkan pihak Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul pun mungkin kurang jeli dalam melihat realitas yang demikian. Bukan merupakan sebuah persoalan memang, namun melihat fenomena seperti itu dengan menggunakan kaca mata sosial-ekonomi, sangat jelas bahwa semangat kebangsaan masyarakat Indonesia dihadapkan dengan suatu kekuatan besar neoliberalisme. Bagaimanapun, dalam konsep nasionalisme, sebuah perilaku atau tindakan yang memberikan keuntungan bagi kaum penjajah adalah bertentangan dengan cita-cita perjuangan bangsa Indonesia.

Nasionalisme adalah semangat kebangsaan, sedangkan kapitalisme terkait dengan persoalan monopoli dalam system perekonomian. tentu saja nasionalisme berbeda jauh dengan kapitalisme, namun keduanya dapat bersanding hingga sulit untuk dibedakan dalam suatu fenomena sosial. Dalam sebuah peristiwa di masyarakat, nasionalisme dapat dilihat bentuknya melalui adanya semangat dalam memperingati perayan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Neoliberalisme, yang pada dasarnya merupakan bentuk baru (rekonstruksi) dari paradigma ekonomi kapitalis dapat ditelusuri dan kita temukan melalui beberapa aksesoris yang dikenakannya, yang bermerk Adidas misalnya.

Apapun dapat dijadikan sebagai komoditas, bahkan semangat nasionalisme pun dapat diperdagangkan. Melalui beberapa perusahaan multi nasional serta lembaga-lembaga keuangan internasional sebagi alat, neoliberalisme mengoperasionalkan berbagai agendanya. Beberapa perusahan multinasional tidak pernah kehabisan ide dalam menciptakan dan memperdagangkan setiap produknya. Itulah kecerdasan yang dimiliki oleh kaum kapitalis. Seringkali kita menemukan di jalan-jalan, di toko-toko, bahkan dikenakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, berbagai asesoris hasil produk perusahan multi nasional tersebut.

Merefleksikan Kembali Nasionalisme

Sejenak kita merefleksikan kembali perjuangan dalam meraih kemerdekaan Indonesia. Perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah merupakan aktualisasi secara kongkret dari sikap nasionalisme. Eksploitasi terhadap aspek kekayaan alam, sumber daya manusia maupun aspek lainnya, itulah yang ditolak mentah-mentah oleh para pejuang kita pada masa perjuangan sebelum kemerdekaan. Saat ini bangsa Indonesia memang sudah merdeka, namun secara ekonomi, sosial maupun intelektual Indonesia masih terjajah. Penjajahan bisa dilakukan dalam bentuk apapun dan dalam aspek manapun. Ironis memang, di tengah lahir dan tumbuhnya kembali semangat bela Negara, ternyata terdapat beberapa varian yang mencerminkan masih terjajahnya masyarakat Indonesia.

Program yang dicanangkan oleh pemerintah mengenai “Cinta Produk Indonesia dan nasionalisasi asset-aset Negara”, serta beberapa program nasional lainnya, merupakan upaya mengaktualisasikan nilai-nilai nasionalisme. Mengapa masyarakat Indonesia masih mengkonsumsi produk dari luar negeri? Meskipun hanya lisensinya. Karena sebagian produk tersebut  di produksi di dalam negeri, menggunakan tenaga rakyat Indonesia dengan gaji yang sangat rendah. Contoh kasus, pabrik sepatu dan jeans di sebuah kota di Indonesia (lihat film: The New Rule of The World).

Peran Aktif Pemerintah

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar dalam hal ini. Beberapa perusahaan Negara maupun swasta (milik warga Indonesia) seharusnya diberikan dukungan yang lebih. Dukungan yang seharusnya diberikan oleh pemerintah bukan melalui privatisasi dengan menjual beberapa asset kekayaan Negara ke pihak asing. Hal yang dibutuhkan oleh para pelaku utama perekonomian Negara seperti, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Koperasi serta para petani,  itulah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah pusat maupun daerah.

Dari hal paling sederhana saja, seperti pengadaan setelan bermerk Adidas oleh Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, dapat ditemukan sebuah persoalan yang besar. Apalagi pola laku keseharian masyarakat Indonesia, jika dilihat secara jeli akan terdapat persoalan yang selama ini justru kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Untuk dapat tampil dengan elegan dan meyakinkan, tidak harus menggunakan asesoris bermerk kapitalis. jika berbagai aspek produksi masyarakat Indonesia mendapat dukungan secara optimal dari berbagai pihak, maka kualitas maupun kuantitas yang diharapkan tidak akan kalah dengan produk dari luar negeri. Semakin banyak masyarakat Indonesia mengkonsumsi hasil produk sendiri, secara optimis perekonomian bangsa Indonesia akan menemukan titik terang. tentu saja hal tersebut membutuhkan proses, begitu juga dengan neoliberalisme, ia akan selalu berproses. Ketika masyarakat Indonesia mulai lengah, di situlah neoliberalisme akan membuka lahan barunya.

Orientasi Study

Orientasi Study[1]

Pendidikan adalah kebutuhan alamiah dasar manusia. Selain sebagai wahana dalam mendapatkan pengetahuan yang benar, kecenderungan manusia untuk selalu ingin mengetahui segala sesuatu menjadikan pendidikan sebagai hal yang sangat penting dalam kehidupan. Pendidikan adalah fitrah manusia, begitu sebagian para pakar pendidikan mengatakannya. Dengan demikian, peranan penting pendidikan dalam memberikan jalan kepada manusia untuk mengenal diri, alam dan keberadaan Sang pencipta haruslah ditempatkan pada prioritas utama. Ketika kita berbicara mengenai pendidikan, sering kita mendengar istilah study, kata yang sering diungkapkan ini memiliki beberapa tafsiran. Sehingga sebelum kita melangkah jauh melakukan perjalanan dalam dunia ilmu pengetahuan, lebih baiknya diperlukan sebuah penegasan pemahaman mengenai study. Pemahaman mengenai study itulah yang akan membawa dan mengarahkan kita kepada tujuan (orientation) dari gerak fikir, sikap dan tindakan kita dalam menempuh pendidikan sebagai sarana memperoleh pengetahuan yang benar dan bermanfaat.

Dengan demikian, secara sangat sederhana jelas bahwa pendidikan erat kaitannya dengan study. Study yang dimaksudkan adalah belajar[2], belajar sebagai sebuah proses perjalanan diri dalam memperoleh pengetahuan yang benar. Oleh karena itu, untuk menemukan letak kebenaran dalam pengetahuan dan pengetahuan yang benar dalam menuju kebenaran, maka harus melalui jalan yang benar. Supaya jalan yang ditempuh benar haruslah kebenaran tersebut diposisikan sebagai awal (mengapa kita harus belajar) sekaligus tujuan (orientasi study).[3] Itulah hal sederhana pertama yang harus dipahami sebelum kita akan melalui berbagai jalan dalam upaya kita untuk belajar, khususnya sebagai mahasiswa.

Sebagai mahasiswa haruslah memiliki komitment terhadap titik  tolak dan orientasi study. Tidak boleh seorang mahasiswa belajar di kampus semata-mata hanya untuk memperoleh gelar sarjana dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Mahasiswa harus tetap sadar bahwa gelar sarjana, ijazah dan mendapatkan pekerjaan yang mapan memang merupakan hal yang menjadi kebutuhan manusia secara umum. Namun hal yang lebih penting yang harus diletakkan sebagai tujuan utama adalah pendidikan, dan juga study bertujuan untuk mewujudkan masyarakat berpengetahuan yang benar, adil, makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.[4] Hal ini tentu saja tidak bisa dilepaskan dari peranan mahasiswa nantinya sebagai insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam.[5] Perihal mengenai gelar sarjana, ijazah dan pekerjan yang layak, itu semua bukanlah tujuan utama dari pendidikan dan study yang kita lakukan. Beberapa hal tersebut di atas hanyalah target dari usaha mahasiswa dalam menuntut ilmu secara akademik di bangku perkuliahan. Target itulah yang menjadi awal dari perjuangan untuk mencapai target selanjutnya hingga terwujudnya tujuan yang diharapkan.[6]

Beberapa hal penting yang harus selalu difahami serta dijadikan sebagai landasan pokok bagi setiap mahasiswa sebagai usahanya dalam memperoleh pengetahuan yang benar, khususnya sebagai insane akademis adalah:

  1. Pada dasarnya pendidikan adalah manifestasi dari fitrah manusia dari upaya keingintahuannya terhadap segala sesuatu.
  2. Pengetahuan yang didapatkan dari hasil belajar harus diorientasikan hanya berpihak kepada kebenaran, bukan kepada hal lain. Hal lain hanyalah sebagai target dari sebuah tujuan akhir yang permanent.
  3. Untuk memperoleh pengetahuan yang benar harus dengan cara yang benar, supaya caranya benar maka kebenaran harus diposisikan sebagai awal sekaligus tujuan (orientation) dari segala kegiatan belajar (study).
  4. Dengan pengetahuan benar yang dimiliki oleh mahasiswa,serta niat, jalan, cara dan tujuan yang ditempuh secara benar, maka status atau gelar kesarjanaan, ijazah dan pekerjaan sebagai orientasi pragmatis pasti akan terwujud dengan sendirinya.
  5. Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa.[7]

Apa yang pernah disampaikan oleh Paulo Freire mengenai hakekat pendidikan, yakni pendidikan sebagai pembebasan manusia, juga yang sering menjadi bahan kajian dalam setiap dialog pendidikan mengenai pendidikan humanis-teosentris, maupun pendidikan sebagai yang mengandung nilai profetik, pada dasarnya, secara substansial mengandung makna yang sama.[8]

Sesuai dengan UUD 45 yang menjadi pedoman serta Pancasila sebagai ideology dan dasar Negara Indonesia, yang dengan jelas menegaskan bahwa pendidikan adalah hak seluruh warga Negara dan Negara menjamin hal tersebut, maka sebagai mahasiswa sekaligus bagian dari masyarakat bangsa Indonesia harus memiliki orientasi yang jelas dan benar. Bahwa study dalam pendidikan bukan untuk melahirkan para pekerja saja, menciptakan para koruptor, atau menghasilkan para penguasa dholim adalah benar. Namun untuk mampu mencapai cita-cita ideal masyarakat bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh allah SWT, membutuhkan ide serta gagasan yang cerdas dan benar serta tindakan yang bermanfaat.

Mahasiswa sebagai agent of social change memiliki tanggung jawab yang besar dalam memikul masa depan umat, bangsa dan Negara. Sebagai seorang intelektual dan ulama nantinya, mahasiswa dituntut untuk mampu membumikan nilai-nilai kebenaran sebagai objektifikasi dari manifestasi kekhalifahan manusia secara umum.[9]

Kesesuaian antara akal fikiran, sikap dan tindakan yang pada akhirnya teraktualisasikan dengan landasan keikhlasan, diyakinkan akan sangat mampu merubah keadan bangsa Indonesia. Secara garis besar, begitulah orientasi dari study para pelajar dan mahasiswa Indonesia. Pengetahuan yang benar tidak akan turun dari langit dengan sendirinya, namun hal itu mesti dicari dengan segala hal yang haruslah diawali dan terorientasikan hanya kepada kebenaran, bukan kepada materi.


[1] Materi ini disampaikan kepada para calon mahasiswa baru dalam kegiatan Bimbingan Test Masuk (BIMTEST) yang dilaksanakan oleh HMI   Koordinator Komisariat Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode Kepengurusan 2008/2009. Diharapkan dengan materi ini para peserta setelah menjadi mahasiswa nantinya tetap memiliki komitment yang jelas terhadap study yang akan dijalani oleh para mahasiswa.

[2] Belajar dalam hal ini sebagai pemaknaan sederhana untuk memberikan penegasan akan arti kata study yang selama ini banyak diartikan dengan banyak hal.

[3] Mengenai kebenaran yang dimaksudkan dalam tulisan ini, dapat dilihat dalam rumusan NDP HMI. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk mengenal HMI lebih dekat.

[4] Cita-cita utama bangsa Indonesia adalah menciptakan masyarakat adil, makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. Sesuai dengan mission dan tujuan HMI, pendidikan sebagai jalan bagi fitrah manusia haruslah sesuai dengan jalan yang telah dipilihkan untuk manusia, jalan yang benar demi tujuan yang benar untuk mencapai kebenaran.

[5] Dapat dilihat dan difahami mengenai 5 kwalitas Insan Cita HMI yang menjadi sarana bagi tercapainya tujuan HMI sebagai intelegensia sekaligus kader umat dan kader bangsa.

[6] Mengenai target dapat dilihat dalam tulisan A. Dahlan Ranuwiharjo (mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI pada era PKI), “ Menuju Pejuang Paripurna”.

[7] Lima hal sebagai catatan sekaligus point penting ini adalah merupakan hasil dari kontemplasi penulis. Merujuk kepada NDP (Nilai-nilai dasar Perjuangan ) HMI, yang tetap bersumber atau berfondasikan serta bertitik tolak dari TAUHID.

[8] Secara substansi apa yang disampaikan oleh beberapa tokoh filosof maupun pengamat penddidikan (klasik-kontemporer) mengarah kepada tujuan yang sama, selain mereka berpendapat bahwa pendidikan serta ilmu pengetahuan berpihak dan selalu berusaha menemukan satu hal yang bersifat permanent, yaitu kebenaran.

[9] Lihat al-Qur’an surat Ali Imron: 111. Mengenai tanggung jawab sebagai intelektual sekaligus kekhalifahan manusia di muka bumi.

Mengenal Tuhan Sebuah Pengantar Sederhana

Bismillahirahmanirrahim

Mengenal Tuhan

Sebuah Pengantar Sederhana

Wahyu Minarno

Assalamu’alaikum…..

Ada beberapa pertanyaan serta pernyataan sederhana yang ingin sekali saya sampaikan sebelum tulisan tentang Tuhan ini saya lanjutkan, “ Sebenarnya Tuhan itu ada ataukah tidak ada? Seperti apakah Tuhan itu, kalau memang Dia ada? Mengapa Tuhan tidak kelihatan sehingga semua manusia sibuk mencari Tuhan, dimanakah Tuhan itu berada? Mengapa manusia selalu ingin menkaji tentang Tuhan? Dikaji, dipelajari, dirasionalkan maupun tidak, Tuhan itu akan tetap ada (kalau memang ada), dan Tuhan tetap tidak akan ada (kalau memang tidak pernah ada), dengan kata lain, diapa-apakan atau tidak diapa-apakan Tuhan itu ya seperti itu, tidak mengikuti apa yang kita fikirkan dan rasionalkan ”. Pernyataan tersebut mungkin sering juga dilontarkan oleh banyak para pemikir, mulai periode klasik hingga sekarang.

Saya berfikir bahwa pertanyaan serta pernyataan di atas akan sering sekali disampaikan di mana saja, kapan saja dan oleh siapapun yang ingin mengenal Tuhan. Tulisan ini sebatas pemantik kajian kita mengenai Tuhan, tidak lebih dari itu. Baiklah, dengan pertimbangan karunia akal kita masing-masing serta merujuk kepada beberapa sumber yang dapat dijadikan sebagai bukti (teks dan konteks) kita akan bersama-sama mengenal Tuhan.

1. Keyakinan Manusia Tentang Realitas Tertinggi

Sepanjang sejarah peradaban manusia, telah lama mereka mengenal realitas puncak atau pencipta segala sesuatu, meski mereka belum menyebutnya sebagai Tuhan. Namun sangat jelas, berdasarkan beberapa sumber sejarah yang ada manusia meyakini bahwa permulan alam ini ada yang menciptakan – dan mereka sangat yakin akan hal itu sebagaimana kita sekarang yakin akan adanya Allah SWT -, yakni realitas tertinggi yang Dia ada sebelum yang lainnya ada, Dia ada sebagai permulaan tanpa ada yang memulainnya terlebih dahulu, the ultimate reality (Causa Prima). Dialah Tuhan yang akan kita maksudkan.

Hingga kini perkembangan pemikiran manusia mengenai Tuhan telah mampu mewujudkan bangunan rasionalitas tentang Tuhan, bahwa Tuhan ada meski tanpa pembuktian secara ilmiah. Bahwa pembuktian secara ilmiah belum cukup mampu menguak realitas yang berada dibalik yang tampak (metafisis). Pada wilayah ini akal secara bertahap mencoba untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, sehinga kita dapat mengenalnya.

Melalui teks dan konteks manusia juga mencoba melacak keberadan Tuhan. Al-Qur’an yang dijadikan sebagai rujukan umat Islam juga banyak menerangkan mengenai keEsaan Tuhan, tidak sedikit ayat yang menerangkan tentang Tuhan serta keyakinan manusia bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan dan hidupnya semata-mata hanya untuk beribadah kepadaNya. Dengan melihat serta menyaksikan alam ini manusia juga menyimpulkan bahwa Tuhan ada, sebagai pengada sekaligus yang akan mengakhiri, sebagai awal dan juga tujuan. Di sini kita dapat menyimplkan bahwa semua manusia yakin bahwa Tuhan ada, meskipun tidak semua mengenalnya, namun banyak. Oleh karena itu begitu penting dan sangat relevannya kajian tentang Tuhan ini akan terus berlaku dan selalu dijadikan sebagai pokok bahasan utama pada setiap disakursus.

2. Setiap Manusia Memiliki Perasaan Bertuhan

Pada dasarnya dalam setiap diri manusia terdapat perasaan bertuhan, hal ini tidak dapat ditolak, meski seorang yang diangap sebagai atheis sekalipun. Namun persoalan yang muncul seringkali perasaan tersebut tidak tertampakkan dalam setiap aktualisasi geraknya (dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara). Sejak awal telah saya kemukakan bahwa pada permulan kehidupan manusia, terdapat fitrah terhadap persaksian diri manusia akan Tuhannya. Namun seiring perkembangan pemikiran dan pengetahuan manusia (bukan berarti perkembangan ini bersifat negative, meskipun banyak hal yang berdampak negative di dalamnya)munculah keraguan tentang Tuhan yang mereka yakini, berkaitan dengan ada dan tidaknya. Sekali lagi, keraguan ini muncul setelah perkembangan pengetahuan manusia (ilmu sains dan filsafat). Keraguan yang dialami manusia ini pun terletak pada perwujudan Tuhan, bukan pada hakekatnya, sebab pada wilayah ini manusia telah meyakininya.

3. Konsep Ketuhanan

Untuk memahami sesuatu yang non materi kiranya manusia membutuhkan sebuah formula yang terbangun dari hasil proses kontemplasi yang serius, terlebih untuk memahami Tuhan. Dengan diberikannya manusia akan karunia akal, manusia mencoba memahami realitas yang ada, memahami segala sesuatu yang non materi dengan akalnya, tentu saja dengan tuntunan yang benar (terdapat kesesuaian pada wilayah internal dan eksternal diri).

Tentang konsep ketuhanan ini, terdapat para filosof dan sufi yang masing-masing dari mereka memiliki system pengetahuan sendiri tentang Tuhan, secara teknis mungkin pengetahuan mereka berbeda, namun pada dasarnya asal dan tujuan pengetahuan mereka itu adalah sama. Hingga saat ini kita telah disuguhi dengan banyak sekali konsep ketuhanan dari hasil kreatifitas akal dan hati para filosof dan sufi tersebut. Kita mengenal filsafat paripatetik, filsafat iluminasi, Filsafat kesatuan eksistensi, filsafat hikmah, metode-metode sufistik yang beraneka ragam, serta masih banyak lagi konsep mengenai Tuhan. Dalam diskusi kali ini kita belum akan mengkaji satu per satu dari beberapa konsep tersebut, namun kita masih mencoba berangkat dari tangga yang paling dasar, landasan dasar dalam mengenal Tuhan.

4. Sikap & Tindakan Manusia (Berkenaan Dengan Proses “Mencapai” Tuhan)

Setelah sedikit dan secara sederhana manusia mengantarkan dirinya menuju pengenalan terhadap Tuhan, selanjutnya apa yang menjadi sikap serta tindakan manusia tersebut di dunianya sekarang? Tentu saja sikap serta tindakan (geraknya)manusia tersebut tetap didasarkan kepada pengetahuannya tentang Tuhan (epistemology, pandangan dunia, ideology dan aktualisasi).

Untuk kajian selanjutnya yang lebih mendalam, sementara ini kita dapat memberikan sedikit kesimpulan, bahwa alas an serta argumentasi apapun yang terbangun maka akan menuju kepada satu kesimpulan bahwa Tuhan itu Ada. Karena Tuhan sederhana, tidak seperti ciptaannya, dan bukan materi, maka selama ini kita bingung dalam memahaminya. Jika Tuhan adalah materi, maka materi akan hancur, begitu juga Tuhan. Bahwa Tuhan adalah sebab utama dan tujuan akhir dari semua.

Wassalamu’alaikum…..

Membongkar Misteri Media Massa, Sebagai Salah satu Pilar Konstruksi Peradaban

Membongkar Misteri Media Massa, Sebagai Salah satu Pilar Konstruksi Peradaban

Perubahan Sosial Dan Peradaban Serta Relasinya Dengan Kekuasan Dalam Pengaruh Media Massa[1]

Oleh: Wahyu Minarno[2]

Pendahuluan

Adanya klaim bahwa telah lahir zaman baru, yaitu zaman postmodern, merupakan suatu hal yang menarik untuk didiskusikan. Semua mengetahui bahwa era postmodern merupakan suatu keadaan di mana terdapat banyak perubahan di dalamnya. Salah satunya adalah peranan manusia yang secara asumsi telah banyak termudahkan. Era postmodern ditandai dengan munculnya berbagai perkembangan di segala bidang. Dengan rasionalitasnya, manusia mencoba untuk memahami keberadaan dirinya secara nyata serta bagaimana dengan keberadaannya tersebut manusia mampu untuk menguasai keadaan. Yang akan menjadi titik tekan pada diskusi makalah ini adalah mengenai media, khususnya fungsi, peran dan kepentingannya sebagai salah satu bagian dari peradaban . Karena media merupakan salah satu sarana komunikasi antar manusia.

Berdiskusi mengenai media massa, tentu akan melibatkan juga keberadaan manusia yang tidak bisa terlepas dari komunikasi. Sebab komunikasilah yang turut menentukan bagaimana kesalingfahaman antar individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok. Karena peradaban tersusun dari beberapa hal tersebut di atas. Maka, berbicara tentang media massa berarti berbicara tentang komunikasi.

Perubahan Sosial, Kebudayaan Dan Peradaban Umat Manusia

Komunikasi merupakan alat yang paling efektif dalam sebuah upaya untuk mensosialisasikan ide serta mentransformasikan gagasan. Peradaban manusia terbangun dari berbagai pilar-pilar pokok. Salah satu pilar pokok tersebut adalah idea atau gagasan yang teraktualisasikan secara nyata dalam ruang eksternal diri manusia. Relasi kuat antara media massa dengan peradaban dapat kita temukan dengan melakukan sebuah analisa sosial yang kritis. Sebab peradaban manusia tentu saja tidak terlepas dari konsep perubahan sosial pada wilayah horizontal maupun vertikalnya. Di sini media massa sebagai pilar pokok bangunan sebuah peradaban dalam artian sebagai pembentuk dan pelengkap serta melanjutkan peradaban yang sedang berkembang.

Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di setiap masyarakat. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuaian antara unsure-unsur sosial yang ada di dalam masyarakat, sehingga menghasilkan pola kehidupan yang tidak sesuai fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Perubahan sosial sebagai sebuah perubahan struktur sosial, pola perilaku, dan interaksi sosial berbeda dengan perubahan kebudayaan. Jika perubahan kebudayan mengarah kepada unsur-unsur kebudayaan yang ada, maka perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan organisasi sosial yang ada.

Perubahan sosial pada akhirnya nanti akan menentukan sebuah bentuk peradaban. Perubahan sosial tidak dapat dilepaskan dari perubahan kebudayaan. Hal ini disebabkan kebudayaan merupakan hasil dari adanya masyarakat, sehingga tidak akan ada perubahan kebudayaan apabila tidak terdapat masyarakat yang mendukungnya. [3] Perubahan sosial yaitu perubahan yang terjadi dalam masyarakat atau dalam hubungan interaksi, yang meliputi berbagai aspek kehidupan. Sebagai akibat adanya dinamika angota masyarakat, dan yang telah didukung oleh sebagian besar anggota masyarakat, merupakan tuntutan kehidupan masyarakat dalam mencari kestabilannya.

Melalui beberapa fase perubahan kebudayaan dan juga perubahan sosial, maka timbulah sebuah konsep mengenai peradaban. Peradaban merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian atau unsure-unsur kebudayaan yang dianggap halus, indah dan maju. Misalnya kepandaian manusia, perkembangan kesenian, kemajuan teknologi, serta beberapa perkembangan yang lain. Konsep peradaban tidak lain adalah perkembangan kebudayaan yang telah mencapai tingkat tertentu yang tercermin dalam tingkat intelektual, keindahan, teknologi, maupun spiritual yang terdapat dalam masyarakat.[4]

Dengan demikian, peradaban adalah merupakan tahapan tertentu dari kebudayaan masyarakat tertentu pula, yang telah mencapai kemajuan tertentu yang dicirikan oleh ilmu pengetahuan, teknologi serta seni yang telah maju.

Media Massa Sebagai Kontak Universal

Salah satu pernyataan terpenting dalam filsafat komunikasi Jerman diungkapkan oleh Karl Jaspers, tidak lama setelah Heidegger mengutarakan gagasannya tentang menjadi manusia “Kebenaran filsafat memandang seluruh manusia sebagai sang lain yang mungkin, yang tetap merupakan tugas kita untuk berkomunikasi dengannya.”[5] Jaspers menuliskan pernyatannya tersebut pada tahun 1932. Berbeda dengan Heidegger, Jaspers adalah seorang yang konsisten dengan pendirian antifasisnya. Kendati berangkat dari gagasan Heidegger tentang bercakap dan mengada, ia mengemukakan visi yang luar biasa tentang kondisi manusia. Bagi Jaspers, merupakan kewajiban kita sebagai manusia untuk berkomunikasi dengan sesama manusia yang lain. Tidak ada jalan untuk dapat memenuhi kewajiban ini, dan tidak ada alasan pula untuk tidak memenuhinya. [6]

Pemahaman terhadap diri, melewati frase pemahaman terhadap realitas secara luas, baik internal maupun eksternal. Untuk dapat memahami realitas secara luas, sementara manusia secara individu dengan segala keterbatasannya hanya mampu menjangkau yang terdapat di sekitarnya, maka dibutuhkan sesuatu yang dapat mengakomodir kebutuhan akan hal tersebut. Maka dalam hal ini media memiliki peranan sangat penting sebagai sarana dalam mentransformasikan dan mensosialisasikan pemaknaan akan smbol-simbol realitas. Interprestasi manusia terhadap realitas tidak dapat diketahui oleh manusia yang lain, dengan begitu seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya pemikiran manusia media mengambil posisi yang sangat penting dalam hal ini.

Melalui media, komunikasi sesama manusia, secara individu maupun kelompok dalam bentuk apapun akan terakomodir. Dalam situasi sekarang, persoalan mengenai ruang dan waktu yang selama ini menjadi kendala utama dalam komunikasi tidak lagi dijadikan sebagai sebuah persoalan yang penting. Media dengan segala bentuk dan sistemnya telah dapat menghapus semua persoalan tersebut dengan bantuan perkembangan teknologi yang ada. Dengan adanya kemajuan teknologi yang dimanfaatkan oleh media, kejadian yang sedang berlangsung di sebuah Negara yang sangat jauh dapat diketahui oleh seseorang yang sedang berada di Negara lain yang juga jauh jaraknya dalam waktu yang sama. Dengan demikian ruang dan waktu bukan lagi menjadi kendala dalam komunikasi setelah media dengan segala kecanggihannya mampu menerobos ke segala penjuru realitas yang kasat mata.

Keberadaan televisi, surat kabar, telefon genggam beserta seluruh jaringan  yang mengelolanya telah mampu menjadi fasilitator utama dalam terakomodirnya kebutuhan manusia terhadap komunikasi antar ruang dan antar waktu. Di sinilah letak relasi antara media massa dan kontak universal, media massa sebagai kontak universal.

Beberapa hal di atas adalah sedikit gambaran mengenai manfaat positive dari fungsi serta peran media massa sebagai salah satu pilar konstruksi peradaban. Namun apakah tidak terdapat hal negative yang disebabkan oleh keberhasilan media massa dalam menciptakan kebergantungan manusia terhadapnya? Tentu saja ada, dan persoalan tersebut akan kita bahas dalam diskusi selanjutnya dalam makalah ini. Berbagai kepentingan yang merupakan misteri dari media massa akan kita bongkar di sini.

Komunikasi Dan Industri Pers

Dalam pengembangan atau penerapan teori komunikasi di Negara berkembang, diperoleh dua asumsi yang sangat berbeda. Asumsi ini lekat dengan penggunaan praktek media massa dalam kehidupan masyarakat, berikut pengaruh Negara dalam pemanfatan media massa bagi kepentingan kekuasaan secara optimal. Pemanfatan media komunikasi di banyak Negara berkembang memiliki dua bentuk praktek yang secara umum memiliki pengikut dan pengaruh tersendiri, yaitu The Process School dan The Semiotic School. Kedua bentuk itu merupakan dua paradigm besar yang berpengaruh terhadap praktek komunikasi di Indonesia dan banyak Negara berkembang yang lain.

The Process School

Pemahaman tentang The Process School merupakan arus kuat. Dalam aliran ini komunikasi merupakan tradisi yang mengutamakan proses, yang diutamakan adalah transmisi peran. Asumsi-asumsi yang sporting, asumsi yang bisa dianggap benar dalam proses komunikasi menurut paham ini meliputi:

  1. Sender dan receiver pada posisi yang setara.
  2. Saluran yang digunakan adalah netral. Tidak menghambat atau mengubah pesan. Pesan tidak mengalami perubahyan substansi.
  3. Pesan yang dialirkan sesuatu yang secara budaya dipahamioleh sender maupun receiver. Sehingga telah terjadi proses culture care atau proses pencampuran berbagai pola kebudayan yang ada.
  4. Kalau ada kesalahan maka kesalahan itu disebut sebagai kesulitan yang terjadi pada kata atau kalimat.

Konsep ini sangat dominan di banyak Negara maju, Negara berkembang dan didukung oleh para akademisi perguruan tinggi besar, di Indonesia misalnya. Alasanya adalah bahwa konsep tersebut sangat dekat dengan pemahaman awal atau mudah difahami, sehingga sangat popular. Selain khasanah pembangunan yang terjadi sesuai dengan modernisas. Pada awal pembangunan, konsep itu dilaksanakan dengan gencar terutama di banyak Negara berkembang yang menerima bantuan pembangunan dari lembaga-lembaga internasional.

The Semiotic School

Pandangan semiotic ini bertolak dari asumsi bahwa kegiatan komunikasi merupakan aktivitas yang memproduksi makna melalui pesan-pesan yang disampaikan. Teori ini berasal dari marx, yang menyatakan bahwa semua kegiatan masyarakat dimulai dari produksi. Menurut marx, dalam teori kebergantungan terjadi ketidak serasian hubungan antara Negara maju dan berkembang karena factor produksi dan teknologi dikuasai oleh Negara mau. Dari marx, teori itu dilanjutkan oleh John Fiske. Menurutnya pada saat kita merepresentasikan sesuatu kita sebetulnya member tanda.

Semiotic adalah ilmu tentang tanda yang mempelajari tanda itu dibuat  dan digunakan bagaimana. Kedua kejadian itu tidak dapat dipisahkan, karena memiliki perkaitan yang sangat erat. Istilah yang sering digunakan dalam hal ini antara lain adalah icon, index dan symbol.

Keterkaitan media massa dengan beberapa hal di atas adalah bahwa media massa tidak dapat sepenuhnya atau sama sekali tidak menggunakan salah satu dari teori di atas. Teori di ataslah yang pada akhirnya nanti menjadikan media sebagai sebuah alat utama yang sangat strategis, baik pada wilayah tujuan kapitalis maupun kekuasan. Selanjutnya dengan itu sejarah akan dibuat. Dan peradaban akan muncul di dalamnya.

Postmodern Dan Rahasia Media Massa

Kalau kita mengikuti program teori kritis Habermas, kita akan menemukan bahwa menurut filsuf Jerman ini, modernitas yang kita alami sekarang ini adalah merupakan suatu modernitas yang terdistorsi. Artinya, ada sebuah konsep normatif mengenai modernitas yang kemudian secara factual disimpangkan oleh tendensi-tendensi historis tertentu. Sebut saja kapitalisme, maka modernitas yang sekarang sedang terjadi adalah modernitas kapitalis. Selanjutnya, jika modernitas kita adalah modernitas kapitalis, maka pada keadan yang lebih banyak terdapat kritik dan analisa dengan pengagungan terhadap rasionalitas, apa yang terjadi?[7]

Media massa sebagai fasilitator dalam komunikasi manusia, saat ini telah banyak mengalami metamorfosa peran dan fungsinya. Hal ini jugalah yang pada nantinya akan mengaburkan makna dari aktivitas komunikasi. Pertanyaan yang seharusnya muncul kemudian adalah bagaimana seharusnya media massa dan kita sebagai masyarakat memandang dan memaknai komunikasi pada masa ketika teknologi mempengaruhi hidup kita sedemikian rupa? Bagaimana media massa maupun kita dapat memperoleh nilai-nilai lama dari aktifitas komunikasi gaya postmodern? Apakah proses komunikasi yang mendasarkan dirinya pada pertemuan langsung sekarang telah menjadi sekedar romantisme?[8]

Di saat kemajuan teknologi serta komunikasi yang semakin dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat mulai menciptakan berbagai macam kebergantungan terhadap setiap diri individu dari masyarakat,  maka media massa seharusnya berbuat lebih banyak. Kita akan mengambil salah satu contoh kasus untuk mengurai secara teliti mengenai rahasia yang berada di balik media massa. Dengan tidak mengatakan sebagai sebuah kepentingan yang terselubung, maupun sebagai suatu wilayah yang dilirik oleh banyak kaum pemodal, media massa akan kita lihat sebagaimana adanya sesuai dengan apa yang saat ini sedang terjadi.[9]

Pada era postmodern seperti saat ini, kekuasaan merupakan hal yang menarik untuk kita kaji. Selanjutnya kita akan mempertemukan relasi yang terdapat antara kekuasaan dengan hal lain yang terkait erat dengan persoalan sosial. Pada wilayah sosial terdapat banyak hal yang juga perlu digali, salah satunya adalah media massa yang tentu saja memiliki peranan penting sebagai fasilitator komunikasi antar individu maupun kelompok di dalam masyarakat. Selain terdapat banyak hal yang bersifat informasi maupun propaganda yang terdapat di dalam masyarakat, berbagai macam kepentingan tertentu juga akan kita singkap bersama dalam makalah ini.

Media Massa Dan Kekuasan

Dalam sebuah buku Masyarakat Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah, dan Perubahan Sosial (Jakarta, 1999), Dawam Raharjo mengungkapkan banyak hal terkait dengan persoalan komunikasi sosial, yang tentu saja tidak dapat dilepaskan dari peran media massa. Dawam mengungkapkan bahwa kekuasan sebagai pengatur utama dari keberadaan Negara merupakan bentuk kongkrit dari pengamanan terhadap kekayaan yang dimiliki oleh setiap warga Negara. Letak dari korelasi antara kekuasaan dengan kepentingan modal dapat kia temukan disini. Bahwa kekuasaan tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya berbagai faktor yang membentuk atau menjadikannya menjadi sebuah struktur yang dengan mekanismenya yang ada menjadi sentral mobilisasi sosial.[10]

Peranan media massa menjadi sangat penting di sini. Selain sebagai fasilitator sosialisasi yang transformative, ternyata media massa tidak lepas dari beberapa kepentingan. Jika kita mengulas kembali fungsi serta peranan media di era postmodern, kita akan menemukan sesuatu yang penting. Sebagai salah satu pilar dalam bangunan peradaban, media massa saat sekarang lebih dekat kepada wilayah ekonomi. Dibandingkan dengan peranan utamanya yang seharusnya lebih kepada pengakomodiran terhadap kebutuhan komunikasi manusia, media massa lebih menitikberatkan kepada kepentingan keuntungan dan penguasan terhadap wilayah otoritatif.

Kita akan menelusuri perjalanan kepentingan manusia dalam upaya memahami keberadannya. Untuk dapat mewujudkan tujuannya, manusia berusaha menguasai segi kehidupan manusia yang dianggap penting dan strategis. Saat itu manusia sangat ingin mengetahui sesuatu yang membuat manusia bergantung kepadanya. Dengan pengetahuan seperti hal di atas, kemudian manusia mencoba untuk menguasainya. Dengan demikian manusia akan mampu bertindak dengan otoritas yang dimilikinya.

Dalam perkembangannya selama ini, ternyata media massa menjadi sebuah alternative strategis yang dimaknai sebagai salah satu ruang yang sangat memberikan banyak jaminan yang pasti. Jaminan yang dapat dimanfaatkan sebagai pengatur manusia. Dengan menciptakan berbagai fasilitas informasi atau pemberitaan, propaganda menjadi hal yang taktis dalam menyebarkan ide serta ggasan.

Benar jika media massa merupakan salah satu pilar dalam bangunan peradaban. Ketika tidak terdapat media sebagai sosialisator sekaligus provokator peradaban maka kondisi sosial serta budaya suatu masyarakat belum tentu atau bahkan tidak dapat mencapai suatu keadaan tertentu di mana seni, teknologi dan intelektual maupun spiritual berada pada tingkat yang kondusif. Bahkan media massa menjadi factor utama dalam memfasilitasi kampanye menuju kursi kekuasaan, tanpa media massa kekuasaan tidak dapat diraih.

Kita tahu bahwa hampir seluruh teori sosial yang ada berusaha untuk menteorikan budaya dan wacana. Sedangkan media sebagai satu faktor ekonomis dan politis pada era kapitalisme akhir yang meningkatkan dominasi dengan mempromosikan kesadaran palsu dan melalui komodifikasi, memberikan kontribusi kepada laba, selain kepada pemegang kuasa sebagai pengatur yang sifatnya maya.[11]

Pada wilayah ini media massa yang seharusnya mampu untuk menjadi jembatan efektif komunikasi antara individu dengan individu lainnya maupun antar kelompok, mampu menjaga keseimbangan relasi dengan wilayah ekonomi dan Negara.

Media massa yang erinspirasi oleh teori politik dan kekuasan tidak hanya menekankan implikasi kerja empiris mereka bagi reformasi sosial dan gerakan sosial. Mereka melihat kerja media itu sendiri sebagai aksi politis serta tindakan ekonomis yang pragmatis.

Media Massa Dan Masa Depan Peradaban

Adanya legitimasi bagi media yang bersifat standard, sah dan berlaku universal oleh kekuatan kelembagaan yang didominasinya menurut Arif Budiman dapat dipandang sebagai sesuatu yang tidak sehat dan akan mengarah kepada penggunaan fasilitas media massa sebagai sesuatu yang bersifat menindas kekuatan masyarakat dalam mengekspresikan lokalitas mereka karena tidak memiliki legitimasi.

Kita dapat menyaksikan dengan seksama sebuah contoh kasus menarik. Misalnya bahwa pesan yang akan disampaikan oleh Negara maju kepada Negara berkembang, adalah bahwa  Negara berkembang tertinggal dengan Negara maju karena beberapa aspek terpenting yang tidak dikuasainya yaitu meliputi ilmu pengetahuan, teknologi, modernitas, modal, tenaga ahli bahkan politik.

Dalam perkembangannya, kedudukan komunikasi pembangunan mengalami perubahan. Hal ini pun sangat dipengaruhi oleh media massa. Mengalirnya modal dari Negara maju ke Negara berkembang atau mengalirnya modal dari pusat ke daerah, ternyata kedudukan sender dan receiver mengalami perubahan. Hal ini pun sangat dipengaruhi oleh media massa, media massa tidak hanya sebagai fasilitator komunikasi, namun juga propaganda. Padahal perubahan dari setiap hal yang terdapat di dalam masyrakat tersebutlah yang pada nantinya akan mencapai titik tertentu yang ideal. Itulah peradaban.[12]

Melalui gambaran sederhana di atas kita dapat memberikan sedikit kesimpulan bahwa media massa memang benar-benar merupakan salah satu pilar dari bangunan perdaban. Namun yang menjadi persoalan adalah apakah pilar yang sebgai predikat yang dilekatkan pada subyek media massa telah dan akan mampu mengaktualisasikan peran dan fungsinya dengan  benar? Setelah kita melihat secara sederhana beberapa persoalan di atas.

Kesimpulan

Dengan adanya kebutuhan akan informasi yang semakin berkembang sehingga media lokal tidak cukup efektif untuk menyebar luaskan materi pembangunan yang semakin canggih dan luas. Peradaban mencakup seluruh sector kehidupan sosial, mulai dari teknologi, seni, spiritualitas, serta yang lainnya. Teknologi misalnya, pun mencakup banyak sector kehidupan masyarakat. Misalnya, pertanian, industry, dan perdagangan makro maupun local.

pada akhirnya proses inovasi memiliki perkaitan dengan proses disfusi, yaitu penyebaran idea tau pemikiran yang ada di masyarakat. Difusi adalah proses di mana mengandung beberapa hal sebagai berikut:

  1. Suatu proses inovasi.
  2. Suatu proses komunikasi yang pasti akan menyentuh chanel.
  3. Mengikuti system sosial yang ada.
  4. Berlangsung dalam kurun waktu tertentu.

Dan media massa berada di tengah-tengah seluruh hal yang terdapat di atas. Oleh karena itu, seperti yang telah disampaikan di muka bahwa media massa menjadi alternative utama dalam menciptakan kebergantungan dan propaganda. Sebab dengan itu ke mana arah perubahan yang diinginkan dapat sesuai dengan apa yang diharapkan.

Bahkan sebagai bentuk kongkrit dari sebuah tindakan agitatif maupun transformative dapat dilakukan dengan perantara media massa. Surat kabar, televise, penyentera serta jenis media yang lain menjadi kebutuhan yang lebih penting bagi manusia daripada kebutuhan yang mendasari mengapa harus ada beberapa jenis media tersebut. Untuk dapat memperoleh hasil penjualan yang melimpah, untuk dapat duduk di kekuasaan, untuk dapat menghancurkan lawan politik, semua dapat dilakukan dengan manusia tidak harus berada di ruang yang lain.

Pada keadaan seperti zaman postmodern sekarang ini, benar bahwa siapapun yang menguasai media massa, maka ia akan dengan mudah untum dapat menguasai sector lain. Bagaimana media massa mencoba untuk menggunakan bahasa sebagai sebuah symbol sosial, ia melakukan perubahan sosial dengan cepat, perubahan kebudayan dengan luas, sehingga munculah situsai tertentu di mana semuanya berada dalam posisi baku, di situlah letak peradaban. Dan media massa terdapat di dalamnya, sebagai salah satu pilar, sebagai salah satu autama, juga sebagai piranti yang sungguh dengan luar biasa mampu memiliki kuasa yang besar dan sangat berpengaruh.[13]

Wassalamu’alaikum

Daftar Pustaka

Agus Salim, Perubahan Sosial, Sketsa teori dan Refleksi metodologi Kasus Indonesia, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

Ben Agger, Teori Sosial Kritis, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005.

M. Dawam Rahardjo, Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, Jakarta: LP3ES, 1999.

F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Diskursus Filosofis tentang metode Ilmiah dan Problem Modfernitas, Jakarta: Pustaka Filsafat, 2006.

George Mierson, Heidegger, Habermas  dan Telefon Gengam, Yogyakarta: Jendela, 2003.

Dra. Elly M. Setiadi. M.Si dklk, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, Jakarta: Kencana, 2006.

Dominic Strinati, Popular Culture, Yogyakarta: Bentang, 2003.


[1] Makalah ini disusun sebagai persyaratan dalam mengikuti LK II HMI (Intermediate Training) yang dilaksanakan oleh HMI Cabang Malang.

[2] Kader HMI Cabang Yogyakarta, Kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah dan Filsafat.

[3] Dra. Elly M. Setiadi. M.Si dklk, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar, Jakarta: Kencana, 2006, hlm. 49

[4] Lihat ibid, hlm. 46

[5] Diambil dari tulisan karya George Mierson yang dicuplik dari sebuah buku Basic Philoshopical Writing, hlm. 76 (Philosophy)

[6] George Mierson, Heidegger, Habermas  dan Telefon Gengam, Yogyakarta: Jendela, 2003, hlm. 13

[7] F. Budi Hardiman, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Diskursus Filosofis tentang metode Ilmiah dan Problem Modfernitas, Jakarta: Pustaka Filsafat, 2006

[8] George Mierson, Heidegger, Habermas  dan Telefon Gengam, Yogyakarta: Jendela, 2003

[9] Dominic Strinati, Popular Culture, Yogyakarta: Bentang, 2003

[10] M. Dawam Rahardjo, Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial, Jakarta: LP3ES, 1999

[11] Ben Agger, Teori Sosial Kritis, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005, hlm. 351

[12] Ben Agger, Teori Sosial Kritis, Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005.

[13] Agus Salim, Perubahan Sosial, Sketsa teori dan Refleksi metodologi Kasus Indonesia, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002

Ideologi Politik Strategi dan Taktik Sebuah Pengantar Sederhana

Ideologi Politik Strategi dan Taktik

Sebuah Pengantar Sederhana

Oleh: Wahyu Minarno

Landasan Dasar

“ Yang takut kepada Allah adalah hamba-hamba-Nya yang berilmu pengetahuan”

(Q.S Al Faathir: 35)

“Jika suatu hari lewat tanpa bertambahnya ilmuku yang mendekatkanku ke sisi Allah, tidaklah ada berkah untukku dalam terbitnya matahari pada hari itu”

(Hadits Riwayat Thabrani, Abu Na’im dan Ibnu Abdilbar)

“Orang yang buta politik maka ia akan dimakan oleh politik, orang yang buta ideology maka ia akan dimakan oleh ideology”

(Nasehat mengenai pentingnya “pengetahuan” ideology dan politik)

Pendahuluan

Diawali dari pengetahuan manusia terhadap realitas, merupakan bukti bahwa kecenderungan dalam mencari serta menemukan kebenaran sebagai media dalam mencapai tujuan adalah fitrah manusia. Termasuk wilayah pengetahuan yang akan bersama-sama kita kaji pada kesempatan kali ini; ideologi, politik serta strategi dan taktik. Sebelum lebih jauh bahasan yang akan kita kaji, saya akan menggaris bawahi satu pernyatan, pengetahuan politik praktis berbeda dengan politik praktis. Yang akan kita kaji adalah sebagai pengetahuan kita mengenai politik, bukan supaya kita tahu serta akan mempraktekan politik praktis. Sebab HMI adalah organisasi mahasiswa, bukan partai politik atau kelompok yang memiliki kepentingan secara mutlak demi kekuasan.

Sebagai media dalam mencapai tujuan, politik bukan lagi merupakan istilah yang asing atau bahkan tabu bagi kalangan mahasiswa. Namun hal penting yang harus difahami terkait dalam perjuangan politik adalah landasan gerak (epistemology, pandangan dunia dan ideologi), manusianya (kader), serta strategi dan taktik. Beberapa hal penting itulah yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini, sebagai pengetahuan, belum untuk dipraktekan, terlebih semata-mata demi kekuasaan.

Saya fikir kita semua pernah mendengar dan menyaksikan bagaimana setiap individu maupun kelompok berusaha mencapai tujuan serta cita-cita politiknya melalui perjuangan politik. Namun tidak sedikit kita temui beberapa kecelakaan yang terjadi di dalamnya, baik dalam proses perjuangan politik itu sendiri maupun hasil-hasil yang dicapai dari perjuangan politik tersebut. Tentu saja terdapat beberapa alasan mendasar mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pertanyannya adalah, apa sajakah alasan mendasar itu? Jawaban dari pertanyaan tersebut dapat kita jawab secara langsung, sebab jawaban tersebut sebenarnya terdapat di dalamnya. Bagaimana jika saya katakan bahwa alasan mendasar tersebut tidak lain adalah syarat ideal dari perjuangan politik itu sendiri? Bahwa perjuangan politik setidaknya memiliki beberapa kandungan signifikan yang menjadi landasan bagi “gerakan” yang akan dilakukan, yaitu;

1.  Iman atau keyakinan yang teguh[1]

2.  Ilmu yang cukup[2]

3.  Ideologi yang jelas

4.  Organisasi yang baik, rapi dan disiplin

5.  Strategi dan taktik yang tepat, serta

6.  Kemampuan teknis dan teknologis yang memadai.

beberapa hal tersebut di atas yang akan bersama-sama kita fahami. Mengingat pentingnya bekal bagi seorang kader HMI dalam melaksanakan perjuangan politiknya kelak. Sebab proses dalam perkaderan serta perjuangan untuk mewujudkan cita-cita profetik belumlah cukup hanya dilakukan dalam ruang sempit HMI. Suatu saat nanti seorang kader HMI akan mengabdikan dirinya setelah kepurnaan dia di HMI.

Pokok Kajian

A. Ideologi

Ideologi adalah landasan gerak, dalam arti yang lebih luas ideologi dapat dikatakan sebagai seperangkat nilai-nilai berdasarkan pandangan dunia (pandangan hidup) untuk mengatur kehidupan Negara dalam segi-seginya dan yang disusun dalam sebuah konstitusi berikut peraturan-peraturan dan implementasinya.[3]

Pada wilayah ideology, Tauhid jelas haruslah menjadi dasar utamanya (sumber). Bagaimana pemahaman kader maupun manusia secara umum tentang Tauhid menjadi dasar dari epistemologinya. Sehingga dengan pengetahuan yang bersumber dari Tauhid tersebut akan dapat menghasilkan pandangan dunia yang objektiv. Selanjutnya pandangan dunia atau cara memahami realitas tersebut yang nantinya sebagai perangkat ideology. Jika lebih disederhanakan lagi, ideologi sangatlah penting dalam perjuangan politik, sebab ideology sebagai landasan setiap gerak yang akan diaktualisasikan.

Saat ini kita tahu bahwa terdapat banyak sekali ideology raksasa yang dengan segala varianya juga memiliki orientasi dalam pencapaian tujuan (liberalism, kapitalisme, sosialisme dll). Maka sebagai landasan gerak yang universal dan baku Tauhid adalah rujukan atau sumber utama ideologi yang jelas, permanent dan selalu relevan.[4]

B. Politik

Politik secara sederhana dapat kita artikan sebagai suatu media untuk mencapai maksud atau tujuan. Politik merupakan pengetahuan terapan, di mana dengan pengetahuan politik maksud serta tujuan yang akan dicapai dapat diperjuangkan melalui perjuangan politik dengan menggunakan ilmu pengetahuan politik. Tentu saja di dalam politik tersebut masih membutuhkan banyak pengetahuan terapan yang lain, yaitu strategi dan taktik.

Di dalam Islam, system politik terdiri atas tiga prinsip pokok, Tauhid, Risalah dan Khilafah. Prinsip yang pertama termanifestasikan dalam pembahasan kita yang pertama mengenai ideology. Begitu juga dengan prinsip yang ke dua, selain termanifestasikan dalam ideology juga termanifestasikan melalui aturan-aturan serta tuntunan-tuntunan yang membatasi kekuasan seorang khilafah. Sedangkan sebagai khilafah, setidaknya manusia memiliki beberapa syarat sebagai berikut:

1.  Pemilik dari bumi sepenuhnya adalah tetap Tuhan, bukan wakil-Nya yang bertugas mengelola.

2.  Pengelola itu akan mengelola milik Tuhan sesuai dengan instruksi-instruksinya (pemahaman kita terhadap tauhid yang termanifestasikan sebagai ideologi).

3.  Pengelola milik Tuhan akan akan melaksanakan kekuasannya dalam batas-batas yang telah ditetapkan Tuhan atas dirinya.

4.  Dalam mengelola itu, ia akan melaksanakan melaksanakan kehendak Tuhan, bukan kehendaknya sendiri (kemerdekaan individu, keharusan universal dan tetap bertitik tolak dari Tauhid).[5]

Secara singkat politik adalah untuk kekuasaan, sebab hanya dengan kekuasanlah tujuan dapat terwujud. Namun dengan kekuasan yang telah didapatkan nantinya, kekuasan tersebut tetap harus dijalankan berdasarkan atas ideology yang sudah dipilihnya. Dalam kaitanya dengan ini, politik tidak terlepas dari 4 hal; order (susunan/pembagian, perintah), virtue (kebajikan), freedom (kebebasan atau kemerdekaan) dan happiness/welfare (kebahagiaan dan kesejahteraan).[6] Kekuasaan yang diperoleh melalui politik haruslah dapat mewujudkan empat hal tersebut di atas, jika tidak maka kekuasaan yang ada bertentangan dengan fithrah dan tujuan kekuasaan yang murni, tentu saja jalan yang dilalui oleh perjuangan politik adalah tidak benar, sebab akibatnya pun tak selaras dengan tujuan idealnya.

C. Strategi dan Taktik

“Ilmu tanpa amal adalah dosa, demikian pula amal tanpa ilmu.” Pernyatan tersebut adalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, jika kita kaitkan dengan perjuangan politik, maka politik adalah merupakan sebuah amal, jika tidak disertai dengan ilmu maka akan sia-sia. Dalam sebuah perjuangan politik, strategi dan taktik adalah ilmunya, selain landasan tauhid sebagai dasar ideology dan juga pengetahuan mengenai ilmu politik itu sendiri.

Strategi adalah memanfaatkan pertempuran untuk mengakhiri peperangan, taktik adalah penggunaan kekuatan untuk memenangkan suatu pertempuran.[7] Sedangkan menurut Mao Tse Tung strategi adalah untuk menguasai suatu peperangan secara keseluruhan, sedangkan taktik adalah untuk melakukan kampanye (yang merupakan bagian dari peperangan).[8] Namun yang perlu juga kita garis bawahi di sini adalah strategi dan taktik dalam politik tidak dapat meliputi sampai tercapainya tujuan, sebab strategi hanya meliputi jangka waktu tertentu. Dalam pandangan HMI, seperti yang diungkapkan oleh Dahlan Ranuwiharjo[9] mewakili pendidik politik di HMI, strategi adalah Bagaimana menggunakan peristiwa-peristiwa politik dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai rencana perjuangan, sedangkan taktik adalah bagaiman menentukan sikap atau menggunakan kekuatan dalam menghadapi peristiwa politik tertentu pada saat tertentu.[10]

1.  Hubungan Taktik dengan Strategi

Taktik merupakan bagian dari strategi. Maka dalam hal ini, taktik harus tunduk kepada strategi yang ada.

a.  Jika semua taktik berhasil maka strateginya berhasil.

b.  Jika Semua taktik gagal maka strateginya gagal.

c.  Jika salah satu taktik gagal, maka strategi masih bias berhasil dengan syarat taktik yang lainnya berhasil, dan bersifat strategis.

d.  Jika Sebagian taktik berhasil namun sebagian taktik strategis yang lain gagal, maka stratei ggal.

Taktik strategis adalah taktik mengenai suatu kejadian politik, namun kejadian itu menentukan bagi seluruh rencana strategis, dengan kata lain taktik ini adalah taktik utama/prioritas.

Stratak hanya boleh dipelajari oleh pejuang tulen yang telah memiliki kesadaran nideologi dan organisasi serta sanggup berfikir politis realistis. Seorang yang penakut, menghindari resiko dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dari pada kepentingan perjuangan tidak usah mempelajari strata, akan sia-sia, kasihan strataknya. Sebaliknya, orang yang yang berkesadaran ideology serta organisasi haruslah mempelajari strategi dan taktik, sehingga dia tidak akan sembrono dalam bergerak, tidak anarkhis, tidak nyelonong saja serta tidak bertindak radikal ekstrem yang ngawur dan nekad.[11]

2.  Stratak dan Organisasi

Stratak adalah cara menggunakan oranisasi organisasi untuk mencapai sasaran perjuangan. Garis dari setiap strata harus disesuaikan dengan kondisi organisasi, kesuksesan strata akan semakin memperkuat organisasi, begitu juga sebaliknya. Semakin berkurang kekuatan organisasi, semakin tidak mampu organisasi itu melaksankan stratak yang besar, semakin kecil stratak yang dapat dilaksanakan oleh organisasi semakin jauh organisasi tersebut dari tujuan perjuangan politiknya. Stratak tidak mampu berdiri sendiri, melainkan dia hanya alat pelaksana bagi tujuan ideology.

3.  Tugas Stratak

Menciptakan, memelihara, dan menambah syarat-syarat yang akan membawa kepada tujuan (machts-vorming dan machts-aanwending)adalah tugas stratak. Dengan kata lain, tugas stratak adalah untuk mempertahankan dan menambah kekuatan serta posisi sendiri, di samping itu juga untuk menghancurkan dan mengurangi kekuatan serta posisi lawan.

4.  Dasar-dasar Menyusun Strategi

a.  Menetapkan sasaran yang hendak dicapai oleh organisasi dalam jangka waktu tertentu. Sasaran disesuaikan dengan kemampuan oranisasi.

b.  Jangka waktu ditentukan sebagai jangka waktu sekarang (jangka pendek) dan jangka waktu beberapa tahun ke depan (jangka panjang).

c.  Harus terdapat rencana atau strategi alternative.

d.  Harus dapat menambah kekuatan serta memperkuat posisi.

e.  Harus mampu membentuk opini public (subyektifitas menjadi objektifitas, sebab mendapatkan dukungan dan sokongan dari kesepakatan wacana public).

5.  Dasar-dasar Membentuk Taktik[12]

Dikarenakan taktik merupakan bagian dari strategi maka dasar bagi strategi berlaku juga untuk taktik. Namun masih terdapat beberapa dasar yang berlaku untuk taktik,

a.  Fleksibilitas, sikap dan langkah dapat berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi.

b.  Orientatif, evaluative dan estimative, perjuangan politik tidak mampu melihat hasil atau keberhasilan yang dicapai nanti, sebab hal tersebut belum terjadi. Namun dengan menentukan langkah, mengira-ngira (mengorientasikan) serta mengevaluasi keadaan dan kemungkinan yang akan terjadi, disertai dengan memperhitungkan beberapa hal maka kita akan dapat melihat bayangan aka nada dan tidaknya kesempatan untuk berhasil.

c.  Kerahasian, strategi harus dirahasiakan, biarlah lawan meraba apa langkah perjuangan yang akan kita lalui.

d.  Gerak tipu/mengelabuhi.

e.  Lima S; Sasaran, Sarana, Sandaran, Sistem, Saat.

f.  Perpaduan antara Kondisi Objektif dan Kondisi Objektif, kondisi subjektif mematangkan kondisi objektif, begitu juga sebaliknya. Antara kedua kondisi ini memiliki hubungan timbale balik yang saling mempengaruhi.

6.  Hukum-hukum Stratak

a.  Kwantitas.

b.  Perpaduan antara kwalitas dan kwantitas.

c.  Posisi.

d.  Cadangan.

e.  Kawan, Sekutu dan Lawan.

f.  Divide et impera.

g.  Menyerang adalah pertahan yang terbaik.

h.  Membenarkan segala cara, selama tidak bertentangn dengan ideology dan membawa akibat yang dapat merugikan diri sendiri.

7.  Pedoman Mencapai Hasil

a.  Mencegah mudhorat lebih diutamakan dari menarik manfaat.

b.  Apa yang dapat diselesaikan hari ini, selesaikan, jangan menunda.

c.  Tidak ada rotan, akarpun jadi.

d.  Hasil dalam perjuangan terletak pada hasilnya sendiri, tidak ada satupun yang berhasil daripada keberhasilan.

D. Pejuang Paripurna

Setiap manusia dilahirkan sebagai pemimpin di muka bumi ini, utamanya adalah sebagai wakil Tuhan. Sebagai pemimpin dan juga wakil Tuhan seharusnya manusia dalam menjalankan segala gerak dan langkah perjuangannya dilandasi dari ke-Tauhid-an. Setiap pemimpin haruslah memahami, meresapi dan menghayati enam syarat perjuangan politik yang telah disebutkan di atas, selain juga harus mampu menanganinya.

Pejuang paripurna haruslah selesai pada wilayah Iman dan ilmu, setidaknya memiliki kapasitas pada dua wilayah tersebut, sehingga dalam pengamalannya tidak lagi keliru. Keparipurnaannya didasarkan pada bagaimana ia mampu untuk berfikir, berjuang dan bekerja secara maksimal. Pola berfikir dan bertindak seperti itu akan semakin mendekatkan organisasi kepada tujuan perejuangannya.

Dalam setiap perjuangan politiknya, pejuang paripurna haruslah memiliki beberapa landasan dan nilai-nilai dasar sebagai berikut;

1.  Landasan dari nilai-nilai dasar,

a.  Tauhid.

b.  Risalah.

c.  Kekhalifahan.

2.  Nilai-nilai dasar,

a.  Persamaan derajat manusia.

b.  Musyawarah.

c.  Hak-hak demokrasi.

d.  Keadilan.

e.  Kepentingan umum.

f.  Mencegah kedholiman tas manusia.

g.  Hak atas hidup

h.  Hak bagi si miskin.

i.  Hak antara pemimpin dan yang dipimpin.hak minoritas.

Dengan beberapa hal tersebut di atas, maka hasil dari perjuangan polotik akan dapat memberikan manfaat yang besar serta tidak sia-sia,[13] akan mampu menciptakan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.

__________

Literatur

Al Qur’an dan Hadits

A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000

H. Munawir Sjadzali, M.A, Islam dan Tata Negara, Jakarta, UIP, 1993

Henry J. Schmandt, Filsafat Politik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005

Kitab Jawa Kuno; Serat Wedhatama

Kitab Jawa Kuno Serat Wotgaleh

Sun Tzu Wu, The Art of War, Singapura, 1985


[1] Penjelasan mengenai ini dapat ditemukan di dalam Al Qur’an, Hadits serta literature-literatur dalam Filsafat Islam.

[2] Penjelasan mengenai ini dapat ditemukan di dalam Al Qur’an, Hadits serta literature-literatur dalam Filsafat Islam.

[3] A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000, hlm. 105

[4] Al Qur’an dan Hadits

[5] A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000, hlm. 17

[6] Henry J. Schmandt, Filsafat Politik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2005

[7] Clausevitz.

[8] Mao Tse Tung. (1963).

[9] Mantan Ketua Umum PB HMI Periode 1951-1953,  Ketua Dewan Pembimbing dan Penasehat  PB HMI tahun 1964-1966, Ketua Umum Koordinasi Nasional KAHMI tahun 1977-1980,

[10] A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000, hlm 87

[11] Nasehat dari para Pujanga Jawa intisari  Kitab Jawa Kuno; Serat Wedhatama dan Serat Wotgaleh

[12] Sun Tzu Wu, The Art of War, Singapura, 1985

[13] A. Dahlan Ranuwiharjo, SH, Menuju Pejuang Paripurna, Ternate, KAHMI Maluku Utara, 2000, hlm  37

ANALISA SOSIAL

ANALISA SOSIAL

Sebuah Pengantar Sederhana

Oleh: Wahyu Minarno

“ Hai sekalian umat manusia, sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku ialah agar kamu saling kenal-mengenal…”

(Al-Qur’an, surat Al Hudjurat; 13)

“ Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada keutamaan, menyuruh kepada yang baik (ma’ruf) dan mencegah yang buruk (munkar), merekalah orang-orang yang menang (falah)”

(Al-Qur’an, surat Ali Imran; 104)

  1. A. Pendahuluan, ringan kok…

Beberapa ayat tersebut di atas menjelaskan mengenai individu, masyarakat dan organisasi. Lantas apa kaitannya dengan pembahasan mengenai analisa sosial? Tentu saja sangat erat kaitannya, bahkan dua ayat tersebut di atas yang merupakan salah satu landasan (normatif/teologis) dalam melakukan sebuah kajian analisa sosial, yang selanjutnya disertai dengan tindakan konkrit, di samping landasan empirik serta potensi akal yang juga akan kita gunakan dalam memahami persoalan ini. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah hubungan antara individu, masyarakat serta organisasi dengan analisa sosial? Itulah yang akan kita bahas dalam kesempatan ini. Karena analisa sosial tidak dapat hanya difahami sebagai hal yang bersifat teknis dan merupakan tindakan yang dianggap sederhana,maka suatu analisa sosial akan melibatkan beberapa hal yang telah saya sebutkan di atas.

Oleh karena itu, sebelum pembahasan ini semakin jauh, kita akan bersama-sama menempatkan makna untuk istilah analisa sosial, baik secara etimologis (bahasa) maupun terminologis (istilah). Selanjutnya kita akan bersama-sama juga memahami rangkaian, prosedur serta mekanisme yang terkandung di dalamnya. Sehingga kita memiliki pemahaman teoritik serta beberapa kerangka dasar teknis yang jelas dan benar mengenai analisa sosial, yang selanjutnya terwujudkan dalam suatu bentuk tindakan kongkrit.

Selanjutnya, bagaimana kita bisa membaca Indonesia? Kalau mau disederhanakan lagi, bagaimana kita dapat membaca persoalan bangsa dan masyarakat? Atau, kalau mau lebih disederhanakan lagi, bagaimana kita bisa membaca kemiskinan (lebih tepatnya pemiskinan) di negeri ini? Jika pertanyaan di atas masih agak terasa membutuhkan kerja otak yang dirasa berat, ada pertanyaan kecil yang mungkin paling sederhana, bagaimana kita bisa membaca kemiskinan, atau lebih tepatnya proses pemiskinan di sekitar kita? Tentu bukan sekedar asumsi yang dibutuhkan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan di atas. Membutuhkan sebuah proses dan tahapan-tahapan yang tidak hanya bersifat metodologis-akademik, namun juga ketrampilan lapangan serta kejelian dalam memihak atas kasus dari sebuah fenomena.

Berusaha menemukan noumena di balik fenomena yang ada, itulah yang menjadi tugas utama analisa sosial (ansos). Ansos merupakan keterlibatan total kita terhadap fenomena, menyelam ke dalam, sehingga noumena di balik fenomena dapat terangkat ke permukaan. Jika kita metaforakan, bagaimana dari sesuatu yang terlihat hanya di permukaan, kemudian kita obok-obok, sehingga kita tahu apa di dalam permukaan tersebut. Meskipun demikian, ansos tidaklah sesederhana analogi di atas. Sebagai sebuah pengantar, metafora sederhana di atas mungkin bisa menghantarkan kita kepada pembahasan lanjut terhadap ansos.

  1. B. Definisi Analisa Sosial, agak ringan…

Jika kita pisahkan, analisa sosial terdiri dari dua kata yang digabung, analisa dan sosial. Secara bahasa (etimologis), analisa sama dengan diagnosa, meneliti, menyusuri, menggali, atau kata kerja lain yang mengandung persamaan (hampir sama) dengan analisa. Menganalisa berarti mendiagnosa, meneliti, mencari untuk menemukan, atau menggali. Bagaimana dengan analisa secara istilah (terminologis)? Tentu analisa memiliki definisi yang lebih luas. Secara definisi analisa dapat dipahami sebagai sebuah tindakan penelusuran, penelitian, untuk menemukan sesuatu yang dicari. Di dalamnya terdapat metodologi, tahapan-tahapan, keterlibatan dan hasil. Begitulah secara sederhana kita mendefinisikan apa itu analisa.

Kemudian sosial, apa yang dimaksud dengan sosial? Apakah sosial sama dengan society? Society sama dengan masyarakat (dalam kosakata Inggris), sedangkan sosial (social) adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat. Jika dipadukan antara analisa dan sosial, maka melahirkan definisi terperinci yang agak berbeda dengan definisi awal. Definisi dari analisa sosial berbeda dengan definisi penelitian sosial, riset ilmiah, atau diagnosa proyek. Baik itu dilakukan oleh kalangan ilmuwan, akademisi proyek, maupun peneliti di LSM. Analisa sosial dapat didefinisikan sebagai upaya kita untuk menempatkan suatu masalah tertentu dalam konteks realitas sosial yang lebih luas yang mencakup konsep waktu (sejarah), konteks struktur (ekonomi, sosial, politik, budaya, konteks nilai, dan konteks tingkat atau aras lokasi (spatial: lokal-global).

Hal paling utama dalam analisa sosial di pembahasan kita kali ini adalah adanya sikap keberpihakan yang harus ada sebelumnya, keberpihakan terhadap orang yang sebelum kita melakukan analisa sosial, kita asumsikan sebagai korban. Tiga hal penting lain yang menjadi unsur di dalam analisa sosial, adalah bahwa analisa sosial harus mengandung muatan pendidikan (riset, educations), empowering, dan advokasi (advocacy). Pendidikan, berarti analisa sosial harus ada unsur pendidikan ke dalam diri masyarakat melalui proses-proses di dalam penelitian dalam rangka mencari data. Empowering, bahwa anlisa sosial yang kita lakukan nanti harus memberikan dampak penguatan serta pemberdayaan ke dalam diri msyarakat, tidak sekedar mencari dan memperoleh data semata. Advokasi, bagaimana analisa sosial sebagai langkah awal dalam melakukan pendampingan sekaligus pembelaan terhadap masyarakat sebagai korban sosial. Jika analisa sosial merupakan langah awal, maka analisa sosial harus meniscayakan sebuah upaya untuk mendapat gambaran utuh tentang situasi sosial, hubungan struktural, kultural , historis. Sehingga mampu menangkap realitas sosial secara kritis, memunculkan kesadaran baru, dan melahirkan tindakan sosial.

  1. C. Paradigma Analisa Sosial, agak berat sedikit…

Ketika terdapat fenomena sosial, sering kita menjumpai beberapa pandangan dan penilaian terhadap adanya fenomena tersebut. Fenomena kemiskinan misalnya, ada yang mengatakan kemiskinan sebagai takdir dan kehendak alam (sesuatu yang berad di luar daya dan kemampuan manusia), ada yang mengatakan kemiskinan sebagai kesalahan dari si manusia yang bersangkutan (entah karena kebodohannya, kemalasannya, atau karena kurang maksimal dalam berusaha). Ada juga yang menilai bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang sengaja diciptakan (by design). Bagaimana pandangan dan penilaian tersebut dapat muncul ke permukaan sebagai penilaian terhadap kemiskinan? Pandangan serta penilaian tersebut lahir dari paradigma apa yang digunakan oleh si pengamat.

Di dalam paper ini penulis akan coba menyampaikan 4 bentuk paradigma yang sering digunakan oleh si pengamat dalam membaca fenomena sosial.

  1. Paradigma Interpretatif atau konformisme.
    1. Basis pengetahuannya adalah fenomenologis, membiarkan fakta yang akan berbicara.
    2. Dalam melihat realitas sosial, realitas sosial dilihat sebagai apa adanya.
    3. Model dan bentuk gerakannya adalah karitatif, memberikan bantuan, berdoa, dll.
    4. Paradigma fungsionalis.
      1. Masyarakt dilihat sebagai unit-unit sosial yang saling berkitn satu dengan yang lainnya.
      2. Lebih memusatkan kepada ketertiban sosial, kemapanan, keterpaduan sosial. Lebih kepada bagaimana harmoni sosial itu ada.
      3. Dalam melihat realitas sosial, melalui bagaiman komponen-komponen sosial bekerja. Jika terdapat persoalan, misalnya kemiskinan, maka mereka melihat kembali kepada kerja dari komponen-komponen sosial yang ada.
      4. Model gerakannya adalah dengan memaksimalkan supaya komponen-komponen pembentuk struktur sosial bekerja dengan lebih baik. Misalnya melalui pelatihan-pelatihan terhadap lembaga, perbaikan manajemen, peningkatan pelayanan lembaga terhadap masyarakat, dll.
      5. Paradigma Humanis (Radikal).
        1. Manusia diletakkan sebagai pusat realitas sosial, dan manusia sebagai penentu kondisi sosial.
        2. Mengutamkan kesalehan sosial, kalau mau merubah realitas sosial, maka manusianya dulu yang harus dirubah.
        3. Model gerakannya hampir sama dengan paradigma interpretatif/ kompromisme, namun sedikit lebih luas. Tidak sekedar bantuan saja, namun juga melibatkan upaya bagaimana manusianya dapat meningkat kapasitasnya, misalnya program padat karya, pelatihan untuk peningkatan SDM, dll.
        4. Paradigma Strukturalis (Radikal).
          1. Bahwa realitas sosial dibentuk oleh strktur sosial yang mendominasi.
          2. Adanya ketimpangan sosial disebabkan oleh struktur sosial, hegemoni budaya, ideologi, dll (contohnya orba, dan kemungkinan besar kemiskinan yang sekarang melanda wong-wong cilik).
          3. Model gerakannya melakukan transformasi sosial, melakukan penentangan, perlawanan, membangun struktur baru, penyadaran,dll.
  1. D. Tentang Kesadaran, beberapa tambahan yang ringan…

Di samping beberapa paradigma di atas, ada beberapa kesadaran yang juga harus kita pahami terkait dengan analisa sosial. Hal ini, selain menyangkut kesadaran si analis nantinya, juga sebagai bacaan terhadap pemetaan kesadaran yang dimiliki oleh masyarakat.

  1. Kesadaran Magis, bahwa kehidupan sosial dengan beberapa persoalan di dalamnya (jika ada, dan biasanya pasti selalu ada) merupakan hasil dari kekuatan yang supra, di luar kekuatan dan kemampuan manusia.
  2. Kesadaran Naif, bahwa kehidupan dan persoalan sosial merupakan hasil dan karakter dari manusia itu sendiri.
  3. Kesadaran Kritis, bahwa kehidupan dan persoalan adalah akibat dari adanya sistem dan struktur yang mendominasi, menghegemoni sekaligus menindas masyarakat. Terdapat relasi antar waktu, elemen, wilayah, dll.
  1. E. Tahapan-tahapan Analisa Sosial, tidak berat.. hanya butuh turun kelapangn…

Telah dikemukakan dimuka, bahwa anlisa sosial tidak sekedar penelitian saja, namun membutuhkan kerja-kerja nyata sebagai bentuk keberpihakan kita sebagai analis. Berikut adalah tahapan-tahapan dalam melakukan analisa sosial yang secara garis besar dan sederhana harus dilakukan.

No Tahapan Tujuan/sasaran Metode
1 Mengumpulkan Data
  1. Memperoleh data yang valid.
  2. Bersama-sama masyarakat   memahami dan mengumpulkan data tersebut
Riset partisipatoris, Live-in atau observasi terlibat
2 Memahami akar masalah
  1. Mengajak masyarakat untuk berfikir kritis dan memahami akar masalah yang terjadi.
  2. Melakukan analisis  ke arah pemahaman bersama dan kesadaran baru
Analisis kelas, membaca mode of production atau mode of domination pembacaan kritis dan struktural, dll
3 Menentukan dan menggambarkan Stake Holder
  1. Melakukan pemetaan tentang “korban”, juga mengetahui siapa “lawan” (pihak yang dihadapi) atau “kawan” (pihak yang mendukung dan membela).
  2. Memperbanyak sekutu/aliansi
Pemetaan Stake Holder, analisis SWOT, menggambarkan peta konflik, dll
4 Melakukan Aksi
  1. Melakukan perubahan sosial.
  2. Mempengaruhi opini publik.
  3. Melancarkan tekanan.
  4. Melakukan pembelaan, dll.
Organisasi rakyat, Advokasi, Merubah kebijakan, dan lain-lain

Daftar Pustaka (beberapa buku yang mungkin juga bisa and abaca sambil tiduran, dari pada anda sibuk main PS atau jalan-jalan ke mall menghabiskan uang kiriman dari orang tua)

Budiman,Arief. “Peranan Mahasiswa sebagai Intelegensia”. dalam Cendekiawan dan Politik Jakarta: LP3ES, 1984.

Hardiman,Frans Budi. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Yogyakarta: Kanisius, 2003.

Hikam, Muhammad AS. “Wacana Intelektual tentang Civil Society di Indonesia”,   PARAMADINA, Vol. I, No. 2, 1999.

Kuntowijoyo. Islam Sebagai Ilmu. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Sirait,Hendrik Dikson.  Mahasiswa Menggugat. Bandung: Pustaka Hidayah, 1998.

Raharjo, Dawam. Masyarakat Madani: Agama, Kelas Menengah dan Perubahan Sosial. Jakarta: LP3ES, 1999.

Wirosardjono, Soetjipto. Dialog dengan Kekuasaan: Esai-esai tentang Agama, Negara dan Rakyat. Bandung: Mizan, 1995.

Mangunwijaya, Y.B. “Cendekiawan dan Pijar-pijar Kebenaran” dalam Aswab Mahasin dan Ismed Natsir (ed.),  Cendekiawan dan Politik. Jakarta: LP3ES. 1984.

Rakhmat, Jalaluddin. Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendekiawan Muslim. Bandung: Mizan. 1992.

Bourdieu, P.  1988, Homo Academicus, terj. Peter Collier, Polity Press, Cambridge.

Marx, Karl, KAPITAL (I, II, dan III), Hasta Mitra.

Dan masih banyak lagi buku-buku sosial yang bisa anda baca, anda beli, anda pahami kemudian anda terapkan. Sekali lagi, dari pada waktu anda selama di Yogyakarta habis terbuang sia-sia hanya untuk PS-an, jalan-jalan ke mall, beli pulsa kemudian sms dan telpon tidak jelas. Sebaiknya uang anda untuk beli buku saja. Semakin lama atau “kuno” bukunya, semakin bagus isinya, biasanya. Wassalamu’alaikum.. WM.

MAHASISWA INTI KEKUATAN PERUBAHAN

MAHASISWA INTI KEKUATAN PERUBAHAN

( M I K P )

Rekonstruksi Misi HMI dalamUpaya Menjawab Tantangan Jaman[1]

Oleh: Wahyu Minarno

PENDAHULUAN

Dalam struktur sosial, mahasiswa merupakan salah satu bagian dari kelompok sosial yang teratur.[2] Hal ini mengingat bahwa mahasiswa memiliki beberapa fungsi dan peran serta karakter yang sangat khas, baik sebagai agent of social change maupun agent of social control.[3] Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sebagai bagian dari mahasiswa, tentu memiliki beban tanggung jawab yang lebih berat. Sebagai sebuah entitas intelegensia, yang notabene “berada beberapa tingkat di atas”, jika dibandingkan dengan mahasiswa pada umumnya, haruslah mampu meneguhkan kembali fungsi dan perannya sebagai inisiator, artikulator, sekaligus organisator dari perubahan sosial.

Membincangkan perubahan, yang dewasa ini sering diidentikan dengan perubahan sosial, tentu kita akan diajak untuk menakar dan menelanjangi kembali konsep-konsep kunci serta relasi antar konsep-konsep kunci tersebut. Proposisi mengenai mahasiswa sebagai inti dari kekuatan perubahan, harus kita lihat dan bongkar serta konfirmasi ulang baik dari sisi definisi maupun hakekatnya. Apa yang dimaksud dengan mahasiswa, apa yang dimaksud dengan kekuatan inti, kemudian apa yang dimaksud dengan perubahan (khususnya perubahan sosial), serta bagaimana sang aktor perubahan menggunakan alat untuk merealisasikan mimpi perubahan yang dimaksud itu bekerja? Beberapa pertanyaan pokok tersebut akan penulis jelaskan secara sederhana dalam tulisan ini, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

MAHASISWA DAN PERUBAHAN SOSIAL (BAGIAN I)

Mencari Sebuah Definisi dan Penjelasan tentang Hakekat

Baik para praktisi maupun pengamat, telah banyak diantara mereka yang mendefinisikan, mengkaji bahkan melakukan penelitian dengan mahasiswa dan perubahan sosial sebagai objeknya. Namun hingga hari ini, dari sekian banyak definisi yang ada, konsep mengenai mahasiswa dan perubahan sosial seolah masih menjadi bagian dari wacana yang multi tafsir. Hal ini disebabkan oleh dinamika atau perubahan yang selalu terjadi baik pada diri mahasiswa maupun perubahan sosial itu sendiri.[4]

Mahasiswa merupakan struktur yang unik dalam tatanan masyarakat, baik dilihat dari sudut politik, ekonomi, maupun sosial. Hal ini dikarenakan masa ketika menjadi mahasiswa adalah masa transisi sebelum mereka melanjutkan dirinya sebagai seorang profesional, pejuang, politisi, atau pengusaha. Selain itu, keunikannya juga tampak dari kebebasan yang mereka miliki, baik kebebasan berpikir, berpendapat, berekspresi, atau melakukan apa pun. Komunitas mahasiswa juga merupakan satu-satunya komunitas yang paling dinamis dalam menangkap dan mengakomodasi sebuah perubahan serta paling harmonis dalam menyuarakan pendapat. Sebab, mahasiswa adalah asosiasi dari kejujuran, integritas dan semangat moral. Dalam diri mahasiswa, juga terdapat kumpulan calon cendekiawan, pahlawan, negarawan, serta profesi lainnya.

Dalam masa akhir-akhir ini, mahasiswa memiliki peranan yang sangat besar dalam melakukan perubahan sosial dan politik. Kita dapat melihat untuk membuktikan kekuatan mahasiswa dalam berbagai peristiwa baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Peristiwa penggulingan Juan Peron di Argentina pada tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela pada tahun 1958, penggulingan Sukarno di Indonesia tahun 1966, jatuhnya Ayub Khan di Pakistan tahun 1969, membuktikan bahwa mahasiswa memiliki kekuatan yang sangat besar. Kejatuhan Suharto pada 21 Mei 1998, yang telah mengakibatkan restrukturisasi fundamental dalam perpolitikan di Indonesia,[5] juga tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan mahasiswa di dalamnya. Penting juga untuk dijadikan sebagai sebuah catatan, bahwa mahasiswa dalam hal ini adalah katalisator penting dalam setiap aksi yang bersifat politis.[6] Kekuatan yang dimiliki oleh mahasiswa pada dasarnya adalah kekuatan pengetahuan, mengingat mahasiswa termasuk ke dalam kategori intelegensia.

Perubahan sosial, secara sosiologis memiliki banyak pengertian, baik secara singkat maupun detil. Beberapa definisi mengenai perubahan sosial dapat kita lihat melalui pandangan dari beberapa sosiolog. Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial. Berbicara tentang perubahan, kita membayangkan sesuatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu, kita berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah jangka waktu tertentu. Salah satu contoh definisi dari perubahan sosial yang cukup bagus adalah yang diberikan oleh Hawley; perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tak terulang dari sistem sosial sebagai satu kesatuan.

Konsep dasar dari perubahan tersebut mencakup tiga gagasan, yaitu; perbedaan, pada waktu yang berbeda, dan di antara keadaan sistem sosial yang sama.[7] Perubahan sosial dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut pengamatan (apakah dari sudut aspek, fragmen, maupun dimensi sistem sosialnya). Mengapa? Karena hal tersebut disebabkan oleh keadaan sistem sosial yang tidak sederhana, tidak hanya berdimensi tunggal. Perubahan sosial lahir sebagai kombinasi atau gabungan hasil keadaan berbagai komponen. Komponen-komponen tersebut antara lain:

  1. Unsur-unsur pokok, misalnya jumlah dan jenis individu, serta tindakan mereka.
  2. Hubungan antar unsur, misalnya ikatan sosial, loyalitas, ketergantungan, hubungan antar individu, dan integrasi.
  3. Berfungsinya unsur-unsur di dalam sistem, misalnya peran pekerjaan yang dimainkan oleh individu atau diperlukannya tindakan tertentu untuk melestarikan ketertiban sosial.
  4. Pemeliharaan batas, misalnya kriteria untukmenentukan siapa saja yang termasuk anggota sistem, syarat penerimaan individu dalam kelompok, prinsip rekruitmen dalam organisasi, dll.
  5. Subsistem, misalnya jumlah dan jenis seksi, segmen, atau divisi khusus yang dapat dibedakan.
  6. Lingkungan, misalnya keadaan alam atau geopolitik.

Di samping itu, beberapa definisi lain tentang perubahan sosial antara lain adalah sebagai berikut;

  1. Perubahan sosial adalah transformasi dalam organisasimasyarakat, dalam pola berfikir dan dalam perilaku pada waktu tertentu (Macionis, 1987: 638).
  2. Perubahan sosial adalah modifikasi atau transformasi dalam pengorganisasian masyarakat (Persell, 1987:586).
  3. Perubahan sosial mengacu pada variasi hubungan antar individu, kelompok, organisasi, kultur dan masyarakat pada waktu tertentu (Ritzer, et.al, 1987:560).
  4. Perubahan sosial adalah perubahan pola perilaku, hubungan sosial, lembaga dan struktur sosial pada waktu tertentu (Farley, 1990:626).

Di atas telah sedikit dijelaskan mengenai definisi dan penjelasan mengenai mahasiswa, serta beberapa definisi dan penjelasan tentang perubahan, khususnya perubahan sosial. Kemudian, bagaimana relasi di antara beberapa variabel tersebut? Dan apa yang bisa kita petik sehingga kita dapat merumuskan sebuah formulasi mengenai gerakan sosial untuk perubahan sosial dengan mahasiswa sebagai kekuatan intinya?

MAHASISWA DAN PERUBAHAN SOSIAL (BAGIAN II)

Mahasiswa sebagai inti kekuatan perubahan: menuju gerakan sosial yang sesungguhnya

Gerakan sosial dapat dikatakan sebagai kekuatan utama perubahan. Telah banyak para pakar yang menyimak peran khas dari gerakan sosial, khususnya dalam menginisiasi serta mengawal perubahan sosial. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa gerakan sosial memiliki peran multi. Gerakan sosial sebagai salah satu cara utama untuk menata ulang masyarakat modern, gerakan sosial sebagai pencipta perubahan sosial, sebagai akar historis, sebagai agen perubahan kehidupan politik atau pembawa proyek historis. Tentu gerakan sosial tidak terjadi dengan sendirinya, apalagi tanpa aktor. Pertanyaannya kemudian, siapakah aktor yang dimaksud? Dalam konteks ini, tentu mahasiswalah yang dimaksud. Khususnya lagi, HMI!

Kemudian, sebelum melangkah lebih jauh, apa definisi dari gerakan sosial itu sendiri? Gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpacara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka. Beberapa definisi singkat yang lain tentang gerakan sosial antara lain; Upaya kolektif untuk membangun tatanan kehidupan yang baru (Blumer, 1951: 199), Upaya kolektif untuk mengubah tatanan sosial (Lang & Lang, 1961: 507), Upaya kolektif untuk mengubah norma dan nilai (Smelser, 1962: 3), Upaya kolektif untuk mengendalikan perubahan atau untuk mengubah arah perubahan (Lauer, 1976: xiv), Tindakan kolektif berkelanjutan untuk mendorong atau menghambat perubahan dalam masyarakat atau dalam kelompok yang menjadi bagian masyarakat itu (Turner & Killian, 1972: 246).[8]

Dari beberapa definisi di atas, kita akan meletakkan mahasiswa,khususnya HMI sebagai salah satu aktor utama (atau lebih tepatnya fasilitator) dalam gerakan sosial menuju perubahan sosial. Di sinilah kita baru akan benar-benar memahami bahwa mahasiswa memang masih relevan sebagai kekuatan inti perubahan.

Sebuah gerakan mahasiswa yang masih mau berpretensi menjadi gerakan moral dan pengawal kebijakan pemerintah demi menuju demokrasi, ukuran kalah atau menang dan kuat atau lemah tidaklah menjadi standar penilaian. Menurut Craig Calhoun, peristiwa terbunuhnya para mahasiwa yang melakukan demonstrasi di lapangan Tiananmen pada 1988, akhirnya terbukti banyak berpengaruh dalam penumbangan kekuasan Deng Xiaoping. Sebab, pascaperistiwa tersebut, terjadi pertikaian elite politik di pemerintah dan tubuh Partai Komunis Cina yang menyebabkan pergeseran. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa harus senantiasa bangkit dan bersemangat untuk menyelamatkan bangsanya dari sebuah konspirasi politik nasional ataupun kekuatan kapitalisme global.

Alangkah sayangnya, jika posisi yang strategis dan unik dari mahasiswa di atas, dibiarkan begitu saja berjalan tanpa ada pemompa semangat dan simpati masyarakat. Yang sering terjadi dan dijadikan ukuran gerakan mahasiswa, memang adalah keunggulannya dalam mengkonsolidasi sebuah gerakan dan penjatuhan sebuah rezim. Oleh karena itu, gerakan mahasiswa 1966, 1998, dan 2001 dianggap sukses. Sedangkan gerakan mahasiswa 1974, 1978, dan 2002 dianggap sebagai pecundang dan hanya mengacaukan ketenangan masyarakat. Penilaian seperti itu sangat simplistis dan ukuran sebuah keberhasilan gerakan tidak semudah analisis formal seperti itu.

Beberapa kasus di atas menjelaskan keterlibatan mahasiswa secara penuh pada wilayah demokrasi dan politik, tidak hanya pada tingkatan lokal, namun juga nasional bahkan internasional. Sepak terjang mahasiswa di segala bidang, yang tidak hanya berkutat di sekitar bangku kuliah mendengarkan dosen dalam menyampaikan mata kuliah, menjadikan mahasiswa sebagai kelompok elit yang tidak hanya memiliki kewajiban belajar saja, namun juga berada pada posisi sentral dalam perubahan sosial yang terjadi. Namun demikian, tetap saja mahasiswa sebagai insan akademis tidak boleh melalaikan kewajiban akademiknya sebagai bekal di masa datang.

Mempertegas Kembali Fungsi dan Peran Mahasiswa

Di samping fungsi yang seharusnya terdapat di dalam diri mahasiswa, ia juga memiliki peran yang signifikan terkait dengan keberadaannya sebagai bagian dari dunia akademik, masyarakat bangsa dan Negara. Dapat dikatakan fungsi mahasiswa adalah sebagai  insan akademik, pencipta, pengabdi, dan bertanggung jawab atas terciptanya masyarakat adil dan makmur.

Hendrik Dikson Sirait memberikan paparan tentang dua peran gerakan mahasiswa dan pemuda, Pertama, peran sosial, adalah suatu upaya dari para aktifis mahasiswa untuk melakukan gerakan empowering civil society. Ini terlihat dari kerja-kerja pendampingan lapangan terhadap berbagai persoalan kerakyatan, yang intinya memberikan kesadaran akan haknya sebagai warga Negara.

Kedua, peran politik moral, peran ini merupakan nilai yang inheren di dalam diri para mahasiswa yang kritis dan mempunyai kepedulian, nilai ini kita sebut dengan idealisme yang harus dijaga hingga kematian menjemput kita. Kesantunan, kejujuran, kepedulian, ketegasan harus senantiasa menjadi pakaian setiap pemuda, terlebih mahasiswa.[9]

Seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier, atau jenjang strata sosial yang lainnya. Dalam kaitannya dengan mahasiswa sebagai kekuatan inti perubahan, bagaimana fungsi dan peran mahasiswa tersebut dapat terobjektifikasi? Maka harus dilakukan perubahan terhadap paradigma mahasiswa tentang fungsi, peran dan keterlibatannya di dalam lingkungan akademiknya maupun di masyarakat.

Objektifikasi berangkat dari internalisasi terhadap nilai, bukan dari subjektifikasi kondisi objektif. Objektifikasi sangat berbeda dengan sekularisasi, sebab objektifikasi merupakan penerjemahan nilai-nilai internal ke dalam kategori-kategori objektif.[10] Objektifikasi menempuh prosedur yang sama dengan eksternalisasi, namun dalam objektifikasi ada beberapa tambahan, yaitu bahwa sesuatu dapat dikatakan objektif dalam hal ini, jika sesuatu tersebut dapat dirasakan oleh orang atau kelompok di luar diri dan kelompoknya sebagai sesuatu yang bersifat wajar.[11]

Fungsi dan peran mahasiswa, dengan demikian dapat dikatakan telah terobjektifikasi jika dari fungsi dan peran tersebut, apabila dilaksanakan tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa itu sendiri, namun juga entitas di luar mahasiswa sebagai sesuatu yang wajar, bukan hanya bersifat akademik.

Mempertegas dalam konteks ini tidak berarti menjadikannya semakin kabur, mempertegas juga berarti memperjelas dengan sejelas-jelasnya terhadap fungsi dan peran mahasiswa. Penegasan fungsi dan peran mahasiswa melalui keterlibatannya dalam konteks gerakan sosial, dapat dimasukkan ke dalam beberapa wilayah antara lain, sebagai insan akademis, insan pencipta, insan pengabdi, dan bertanggung jawab terhadap terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur, baik masyarakat di tingkatan mahasiswa, maupun masyarakat secara umum.

MAHASISWA SEBAGAI INTI KEKUATAN PERUBAHAN (SEBUAH REKOMENDASI)

Re-empowering Ideologi

Sebuah gerakan harus memiliki ideologi. Sebagai bagian dari masyarakat, HMI memiliki ideologi yang permanen. Islam sebagai satu-satunya ideologi,[12] harus mampu menggerakkan, mengarahkan, menjadi pisau analisa, sekaligus dari Islam tersebut akan dilahirkan inspirasi-inspirasi gerakan. Pemahaman dan internalisasi ideologi sangat mempengaruhi komitmen dan konsistensi gerakan. Sejauh mana ideologi tersebut dipahami dan terbatinkan, sejauh itu juga sebuah gerakan akan besar, maju dan efektif.[13] Bagaimana HMI memahami dan bersikap terhadap ideologi?

  1. Ideologi harus berangkat dari pandangan dunia dan basis epistemologi yang jelas. Dalam hal ini Islam sebagai satu-satunya ideologi HMI, harus menjadikan nilai-nilai Islam sebagai dasar perjuangan dan gerakan HMI.[14]
  2. Perlu adanya penguatan ke dalam terhadap ideologi, sehingga kekuatan di dalam akan melahirkan dorongan kekuatan keluar. Wacana sebagai nutrisi penguat ideologi harus diperkaya, Islam harus selalu diinterpretasikan kemudian diaktualisasikan, tentu harus selalu dikontekstualisasikan dengan situasi dan perkembangan isu yang ada. Bagi HMI, dalam hal ini pemahaman lebih dalam terhadap NDP menjadi sangat penting.

Metodologi Gerakan

Niat baik akan baik juga hasilnya jika dilaksanakan dengan cara yang baik dan benar (tepat). Bagi gerakan HMI, ilmu tentang sebuah cara dalam menjalankan ide sangat penting. Sebab dengan itulah tingkat keberhasilan sebuah gerakan dapat diukur dan dievaluasi. Gerakan HMI harus memuat tiga hal pokok, pendidikan, empowering, dan advokasi. Tiga hal pokok tadi harus terjangkau dalam satu jenis atau bentuk program kerja HMI. Membicarakan mengenai metodologi gerakan, dalam ruang yang terbatas ini tentu tidak dapat secara detil. Berikut beberapa kerangka terkait dengan metodologi gerakan (sederhana dan lebih subyektif, hasil refleksi lapangan).

  1. Pemahaman terhadap realitas (fenomena atau fakta).
  2. Menangkap fenomena, untuk menemukan noumena di baliknya.
  3. Memilih dan melahirkan isu strategis, pengerjaan isu ini melingkupi pilihan proses (pendek, menengah,dan panjang). Isu dapat dianggap strategis apabila:
    1. Rasional, jangan hanya sebatas asumsi kosong dan main-main. Serius, berasarkan hasil pengamatan objektif di lapangan secara rasional.
    2. Relevan, sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang sedang terjadi.
    3. Signifikan (penting, berdampak). Jika dilaksanakan akan berdampak apa? Jika tidak ditanggapi dan dilaksanakan, dampaknya apa? (positiv dan negativ).
    4. Dapat dipantau dan dievaluasi. Isu dan gerakan yang tidak dapat dipantau serta dievaluasi akan sulit untuk menemukan kelemahan atau kekurangan dalam sebuah gerakan. Tidak dapat mengambil pelajaran dari kegagalan dan keberhasilan gerakan.
  4. Isu yang harus menghegemoni. Isu tersebut, supaya dapat ditangkap, dicerna dan mempengaruhi masyarakat, maka isu tersebut harus bersifat hegemonik.[15] Bagaimana hegemoni itu? Sederhananya seperti ini.
    1. Artikulasi ke dalam (articulate in), maksudnya adalah bagaimana isu dapat terinternalisasi ke dalam diri para pengurus HMI, Frame yang sama dan pemahaman serta rencana yang sama terhadap tindak lanjut dan program kerja dalam rangka penanganan isu tersebut.
    2. Artikulasi ke bawah (articulate down), maksudnya bagaimana isu dan agenda-agenda kerja gerakan dapat terinternalisasi dan didukung sepenuhnya dalam pelaksanaannya oleh anggota HMI yang berada di bawah atau di luar kepengurusan (komisariat, korkom, lembag lain, dll).
    3. Artikulasi ke yang sejajar/silang (articulate across), isu juga harus ditransformasikan secara silang. Bagaimana isu dapat didengar, diperhatikan, difikirkan, diterima,kemudian dapat diajak bekerja sama di bawah gagasan pokok HMI oleh gerakan atau organisasi-organisasi yang lain yang sejajar dengan HMI.
    4. Artikulasi ke atas (articulate on), isu harus ditransformasikan juga pada level yang lebih atas dari HMI (khususnya secara struktural dan relasional-struktural maupun non-relasional struktural).[16] Isu harus mempengaruhi birokrasi-birokrasi (pemerintah desa, kabupaten, provinsi, kalau bisa pusat) dan lembaga-lembaga keperempuanan yang lain yang sejajar dengan pemerintahan atau berada di bawah naungan pemerintahan.

Artikulasi,[17] menjadi sangat penting bagi sebuah gerakan sehingga selain penyampaian gagasan dari intelegensia dan masyarakat,[18] juga sebagai upaya untuk melakukan hegemoni.

  1. Analisa dan Perencanaan. Dalam sebuah gerakan perlu adanya analisa yang tajam dan jeli terhadap pra-masalah, masalah dan akar masalah. Setelah dilakukan analisa, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh sebuah gerakan sebelum bekerja secara keras, secara tuntas dan ikhlas di lapangan (aksi kongkrit, pelaksanaan program kerja), adalah perencanaan yang detil dan matang. Di dalam ilmu organisasi sering kita mendengar atau mendapatkan bahkan mungkin sering menerapkan adanya SWOT dan POAC. Catatannya adalah, seringkali kita belajar teori dan belum tentu kita mencoba menerapkan teori. Apalagi mengkombinasikannya dengan potensi, kapasitas dan keadaan di luar secara kontekstual dan relevan,
    1. Analisa SWOT, pentingnya melihat kapasitas (internal) dan kerawanan (eksternal). SWOT merupakan analisa yang banyak dikembangkan di Jepang sebenarnya. Hingga kini telah banyak organisasi ataupun lembaga-lembaga baik pemerintah maupun non-pemerintah menggunakan SWOT dalam melihat potensi kapasitas dan kerawanan sebelum merencanakan sebuah tindakan. Pada wilayah internal terdapat kekuatan dan kelemahan, sedangkan pada wilayah eksternal terdapat peluang dan tantangan. SWOT membaca keempat hal tersebut.
    2. POAC (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan kontrol. Supaya sistematis dan terarah serta terukur, POAC dibutuhkan dalam merancang atau mendesain agenda kerja (dalam hal ini realisasi gagasan HMI). Bagaimana gagasan yang ada diturunkan menjadi sebuah desain dan rancangan kerja yang sistematis serta terukur, kemudian hasil kerja difikirkan kembali dan menghasilkan desain yang berikutnya, dan seterusnya. Sehingga selalu ada penyempurnaan ketika terdapat kekurangan dan peningkatan ketika terdapat indikasi keberhasilan sebuah gerakan.

Skema Analisa SWOT

External

Factors

Internal

Factors

Opportunities (peluang)

Susun Inventarisir

  1. ………
  2. ………
  3. ……….
Threats (ancaman)

Susun Inventarisir

  1. ……..
  2. ……..
  3. ……..
Strenghts (kekuatan)

Susun Inventarisir

  1. …….
  2. …….
  3. …….
Strategi SO (Gunakan kekuatan untuk menggunakan peluang)

  1. …………
  2. …………
  3. …………
Strategi ST (Gunakan kekuatan untuk menghindari ancaman)

  1. ………..
  2. ………..
  3. ………..
Weaknesses (kelemahan)

Susun Inventarisir

  1. …….
  2. …….
  3. …….
Strategi WO (Gunakan peluang untuk menanggulangi kelemahan)

  1. ………..
  2. ………..
  3. ………..
Strategi WT (Perkecil kelemahan dan hindari ancaman)

  1. ………..
  2. ………..
  3. ………..

Skema POAC

  1. 1. Perencanaan
  1. 2.
    Hasil-hasil dari analisa social, analisa SWOT dan Perencanaan.

    Pengorganisasian

  1. 3. Pengarahan dalam pelaksanaan
  1. 4. Pengawasan/kontrol

PENUTUP

Sebagai penutup dalam pembahasan kali ini, tidak ada usaha yang tidak menghasilkan. Bahwa perjalanan ribuan kilometer, selalu diawali dari satu meter pertama. Singkatnya, selama perjuangan dan gerakan yang dilakukan oleh mhasiswa, khususnya HMI didasari atas ideologi yang kuat, dibangun di atas semangat limardhatillah, di situlah letak keseriusan gerakan mahasiswa dan HMI. Mengutip apa yang pernah dituliskan oleh Cak Nur, dengan demikian tugas hidup manusia menjadi sangat sederhana, yaitu; beriman, berilmu dan beramal. Mahasiswa, apalagi HMI, harus seperti itu!

DAFTAR PUSTAKA

Budiman, Arief “Peranan Mahasiswa sebagai Intelegensia”, dalam Cendekiawan dan Politik. Jakarta: LP3ES, 1984.

Gramsci,  Antonio. Selections from Prison Notebooks. London, 1971.

Hikam, Muhammad AS. “Wacana Intelektual tentang Civil Society di Indonesia”,   PARAMADINA, Vol. I, No. 2, 1999.

Kuntowijoyo. Islam Sebagai Ilmu. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Latief, Yudi. Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim di Indonesia. Mizan.

PB HMI. NDP HMI. Jakarta: PB HMI, 1971.

Sirait, Hendrik Dikson.  Mahasiswa Menggugat. Bandung: Pustaka Hidayah, 1998.

Sugiono, Muhadi. Kritik Antonio Gramsci terhadap Pembangunan Dunia Ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006.

Suyanto, Bagong dan J. Dwi Narwoko (ed.), Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana, 2004.

Sztompka, Piotr Sosiologi Perubahan Sosial, edisi indonesia diterjemahkan oleh Alimandan. Jakarta: Pernada, 2004.


[1] Disampaikan dalam Latihan Kader I (LK I) HMI Komisariat di lingkungan HMI Cabang Yogyakarta.

[2] Dalam beberapa kajian pengantar sosiologi, dikenal beberapa kelompok sosial; kelompok sosial primer dan kelompok sosial sekunder, kelompok sosial formal dan informal, membership group dan reference group, gemeinschsft dan gesellschsft, in group dan out group, serta kelompok sosial tidak teratur. Yang termasuk dalam kelompok sosial tidak teratur ini misalnya adalah; kerumunan, publik, dan massa. Lihat, J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto (ed.), Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana, 2004).

[3] Menurut penulis, identitas mahasiswa sebagai agent of social change maupun agent of social cotrol harus ditinjau kembali. Sebagai sebuah kritik, apakah mahasiswa hari ini benar-benar menjalankan fungsi dan perannya sesuai dengan identitas dan karakter tersebut, haruslah dievaluasi kembali. Halini tentu mengingat mulai adanya pergeseran paradigmadi dalam diri mahasiswa, kecenderungan terhadap pragmatisme, apatisme, dan hedonisme yang mengarahkan mahasiswa kepada sebuah keadaan desublimasi represif, menjadi beberapa fakta yang meniscayakan adanya klarifikasi terhadap identitas mahasiswa hari ini, baik sebagai agent of social change maupun agent of social control.

[4] Multi tafsir yang dimaksud adalah adanya banyak definisi dan penjelasan mengenai mahasiswa dan perubahan sosial, yang masing-masing definisi atau penjelasan yang diberikan seringkali kurang lagi sesuai dengan kondisi objektif dari objek itu sendiri. Contohnya saja misalnya, jika dulu mahasiswa merupakan sebuah kekuatan yang masif dan solid serta idealis, yang gerakannya ideologis, kini mulai pergeseran ke arah kondisi yang pragmatis dan hedonis (terlepas apakah hal ini dipengaruhi oleh faktor internal maupun kebijakan eksternal). Sehingga definisi yang sebelumnya ada pun sudah kurang tepat untuk dilekatkan kepada objek. Dari situlah pendefinisian maupun penjelasan tentang mahasiswa dan perubahan sosial mulai mengalami kerancuan.

[5] Muhammad AS. Hikam. “Wacana Intelektual tentang Civil Society di Indonesia”,   PARAMADINA, Vol. I, No. 2, 1999, hlm. 35.

[6] Arief Budiman, “Peranan Mahasiswa sebagai Intelegensia”, dalam Cendekiawan dan Politik (Jakarta: LP3ES, 1984), hlm. 150.

[7] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, edisi indonesia diterjemahkan oleh Alimandan, (Jakarta: Pernada, 2004). Hlm. 4.

[8] Piotr Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial… hlm. 325.

[9] Hendrik Dikson Sirait,  Mahasiswa Menggugat, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), hlm. 62.

[10] Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006), hlm. 61.

[11] Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, hlm. 62.

[12] Meletakkan Islam sebagai ideologi bukan berarti mensejajarkan Islam dengan ideologi-ideologi besar di dunia. Islam sebagai ideologi adalah Islam yang dijadikan sebagai fundamental value, selanjutnya ide, atau kumpulan ide yang ada dan menjadi ideologi, tetap komitmen dan konsisten dengan Islam tadi. Ideologi yang seperti itu, kalau bukan Islam apa lagi? Islam sebagai ideologi adalah Islam yang mampu menggerakkan, mengarahkan dan menuntun sekaligus menterjemahkan fenomena sosial.

[13] Suatu usaha dikatakan efektif apabila usaha tersebut memiliki dampak positif yang maksimal.

[14] Lihat: PB HMI, NDP HMI, (Jakarta: PB HMI), 1971.

[15] Bagaimana Iran mampu melakukan sebuah revolusi yang dahsyat, tentu tidak terlepas dari peran seorang intelektual yaitu Ali Syari’ati. Bagaimana pada waktu itu Syari’ati mampu melakukan hegemoni terhadap masyarakat Iran dengan konsep dan wacana yang ditawarkannya. Dengan demikian, dapat dikatakan Iran pada waktu itu berada di bawah skenario palanning Syari’ati. Ia mampu membaca realitas secara utuh, menemukan noumena di balik fenomena, memprediksi serta mengarahkan masyarakat kepada tindakan sosial menuju perubahan. Sebuah konsep yang sama juga terdapat di Itali. Antonio Gramsci dengan intelektual organiknya, bagaimana ia memberikan penjelasan mengenai apa itu hegemoni. Hegemoni yang sebelumnya hanya dilakukn oleh orang-orang tidak benar, bagaimana diterapkan oleh orang-orang yang tepat dan benar. Mahasiswa dan HMI sekarang harus mampu melakukan hegemoni, jangan hanya terhegemoni. Sebab hegemoni menurut Gramsci adalah kepemimpinan secara intelektual dan moral. Jika kita dihegemoni oleh intelektual dan moral yang tidak baik, bagaimana? Lihat, Muhadi Sugiono, Kritik Antonio Gramsci terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), 2006. Antonio Gramsci, Selections from Prison Notebooks, (London), 1971.

[16] Bersifat struktural maksudnya seperti pemerintahan atau lembaga di bawah naungan pemerintah, khususnya yang menangani kepemudaan. Relasional maksudnya yang ada kaitan atau hubungan (baik kerja sama atau yang lainnya) dengan HMI. Non-relasional berarti tidak ada hubungan, namun mungkin memiliki pengaruh dan otoritas terhadap sesuatu yang berhubungan dengan isu kepemudaan khususnya.

[17] Mengenai pentingnya artikulasi dan beberapa bentuk artikulsi ini, penulis sarikan dari hasil diskusi ringan dengan MM. Billah. MM. Billah adalah mantan anggota KOMNAS HAM RI dan senior di LP3ES sebagai ahli dan pakar penelitian di dalamnya bersama dengan Dawam Raharjo dan Tawang Alun.

[18] Bedakan antara intelektual dan intelegensia. Intelegensia adalah kelompoknya dan intelektual adalah manusianya,yang menjadi perwakilan sekaligus artikulator dari intelegensia. Contoh, HMI  adalah intelegensia, dan orang-orang yang sebagai artikulator adalah intelektualnya. Lebih lanjut tentang intelektual dan intelegensia lihat, Yudi Latief, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim di Indonesia, (Mizan).

MISION HMI

MISION HMI

Menegaskan Kembali Tujuan, Fungsi dan Peran HMI dalam Dinamika ke-Islaman, Kemahasiswaan dan ke-Indonesiaan[1]

Oleh: Wahyu Minarno[2]

“ Hai sekalian umat manusia, sesungguhnya Kami (Tuhan) telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku ialah agar kamu saling kenal-mengenal…”

(Al-Qur’an, surat Al Hudjurat; 13)

“ Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada keutamaan, menyuruh kepada yang baik (ma’ruf) dan mencegah yang buruk (munkar), merekalah orang-orang yang menang (falah)”

(Al-Qur’an, surat Ali Imran; 104)

“HMI adalah organisasi mahasiswa, berfungsi sebagai organisasi perkaderan, berperan sebagai organisasi perjuangan”

(AD HMI BAB IV, pasal 7, 8 dan 9: tentang status, fungsi dan peran)

“Jangan pernah berhenti mendayung, jika engkau tidak ingin terbawa arus”

(M. Natsir)

“Dengan demikian tugas hidup manusia menjadi sangat sederhana, yaitu ber-Iman, ber-Ilmu dan ber-Amal”

(Nurcholis Madjid)

“Hidup adalah ikhlas dalam berfikir dan bertindak, itulah aktualisasi TAUHID”

(WM)

PENDAHULUAN

Keberadaan HMI adalah keberadaan manifestasi atas gerakan intelektual, moral dan spiritual di Indonesia. Tentu saja hal tersebut tidak dapat dilepaskan dari beberapa syarat utama dari kelahiran sekaligus keberadaan HMI itu sendiri. Sebagai salah satu organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia, HMI didirikan bukan tanpa alasan yang jelas dan ideologis. HMI didirikan berangkat dari kekhawatiran dan kesadaran kritis atas kondisi Islam dan Indonesia pada waktu itu. Berangkat dari sebuah keyakinan yang diletakkan sebagai prinsip dasar kesadaran dalam berfikir dan bertindak, yaitu keyakinan bahwa tidak ada kebenaran selain Islam, yang dimaknai sebagai komitmen terhadap kebenaran, HMI lahir.

Kini, HMI telah berusia 63 tahun. Usia yang jika dianalogikan sebagai seorang anak manusia maka telah mengalami dua proses penting, kematangan atau kedewasaan, dan tua renta yang sangat rentan akan berbagai penyakit. Hari ini, menjadi penting untuk merevisit atau “mengunjungi” kembali beberapa syarat keberadaan HMI. Mengapa, dan untuk siapa HMI ada? Itulah yang akan coba kami sampaikan dalam tulisan sederhana ini, dalam sebuah kerangka sebagai artikulasi sederhana dari MISI SUCI HMI.

Penting kiranya sebelum memahami lebih lanjut mengenai apa yang menjadi misi HMI, khususnya jika dikontekstualisasikan dengan masa sekarang, secara bertahap dilihat perubahan-perubahan di dalam HMI terkait dengan misinya. Berikut adalah misi HMI yang secara periodik mengalami perubahan. Tentu saja perubahan misi HMI tersebut tidak bisa hanya dilihat atau dipahami sebatas pada sisi perubahannya (maksudnya tekstual), namun harus dilihat secara substantif dengan mengetahui latar belakang dari perubahan tersebut.

  1. 1. Tahun 1947 (5 Februari 1947)

Dasar : Islam

Tujuan :

  • Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia.
  • Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.
  1. 2. Tahun 1947 (30 November 1947)

Dasar : Islam

Tujuan :

  • Mempertegak dan mengembangkan Agama Islam
  • Mempertinggi Derajat Rakyat dan Negara Republik Indonesia.
  1. 3. Tahun 1953 (5 Agustus 1953)

Dasar : Islam

Tujuan: kembali kepada Kongres ke-dua.

HMI menyatakan tetap sebagai organisasi yang independent seperti awal lahirnya dan menyatakan HMI bukan underbouw dari Partai Masyumi.

  1. 4. Tahun 1955

Dasar   : Islam

Tujuan :

Ikut mengusahakan terbentuknya manusia akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam.

  1. 5. Tahun 1966

Dasar   : Islam

Tujuan :

Membina Insan Akademis Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam menuju terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

  1. 6. Tahun 1969

Dasar   : Islam

Tujuan :

Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung Jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Meskipun sempat mengalami beberapa perubahan secara tekstual, juga secara isi (maksudnya adalah isi yang kemudian dalam tindakannya meniscayakan skala prioritas yang berbeda), namun misi HMI tetap berada di atas tiga komitmen yang juga merupakan ranah gerakan atau ranah pengabdiannya, yaitu Islam, Mahasiswa, dan Indonesia (atau ke-Islaman, kemahasiswaan, dank e-Indonesiaan). Tentu saja, seperti telah disebutkan di awal, bahwa perjuangan HMI, secara kontekstual didasarkan atas situasi dan kondisi yang ada. Dulu musuh HMI sangat jelas, yaitu penjajahan dan PKI.[3] Untuk konteks sekarang, dengan misi yang secara jelas tertulis di dalam lembaran hasil-hasil kongres, apa yang bisa dilakukan oleh HMI? Apakah hal itu masih relevan dengan kebutuhan Umat Islam, mahasiswa dan masyarakat Indonesia? Jika memang masih relevan, apakah HMI kini telah menjalankan misi tersebut dengan sungguh-sungguh? Atau malah HMI sibuk bertengkar di dalam memperdebatkan dan berebut sesuatu yang sangat pragmatis dan tidak jelas? Sehingga secara perlahan HMI mengalami kemunduran, tidak dikenal masyarakat karena tidak berbuat apa-apaa untuk mereka, hingga selanjutnya mati… Kesemuanya itu adalah pilihan dan keputusan HMI, bukan orang lain, apalagi Negara!!!

MEMBACA KEMBALI MISI HMI KINI

Dalam salah satu pikirannya, Nurcholis Madjid pernah menuliskan, “dengan demikian tugas hidup manusia menjadi sangat sederhanaa, yaitu beriman, berilmu, dan beramal”.[4] Maksud saya adalah bahwa misi HMI itu sangat suci dan berat, memang tidak sesederhana dari apa yang selama ini dilakukan oleh HMI.[5] Bahwa misi HMI dibangun di atas alasan sangat transendental dan teologis, kemudian harus ditopang oleh keilmuan yang cukup, dan semuanya (dari mulai niat untuk berfikir hingga pelaksanaan tindakan) diletakkan sebagai suatu amal yang LIMARDHATILLAH, bukan yang lain.

Jika memang demikian, kemudian apa yang yang harus dilakukan oleh HMI kini dan ke depan? Sehingga HMI masih memenuhi syarat keberadannya. Secara tersurat, di dalam lembaran-lembaran hasil-hasil kongres telah dijelaskan mengenai baik status, fungsi, peran, misi,  maupun tujuan.[6] Harapannya adalah bahwa lembaran-lembaran tersebut jangan hanya digunakan kalau hanya dibutuhkan, terlebih demi kepentingan tertentu. Namun lembaran-lembaran konstitusi HMI tersebut harus selalu dijadikan sebagai salah satu dasar dalam berorganisasi dan berjuang di HMI, sebagai landasan operasional. Di manapun dan kapanpun serta terhadap siapapun selama identitas KADER HMI melekat pada dirinya.

Selanjutnya, marilah kita melihat sejenak beberapa bagian dari Anggaran Dasar HMI (AD HMI),[7] yang di dalamnya memuat tujuan dan usaha yang mesti dilakukan oleh HMI dalam rangka mencapai tujuan tersebut.

Saduran I:

BAB I
NAMA, WAKTU DAN TEMPAT

Pasal 1

Nama

Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam, disingkat HMI

Pasal 2

Waktu dan Tempat kedudukan

HMI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awwal 1366 H bertepatan dengan tanggal 5 Pebruari 1947 untuk waktu yang tidak ditentukan dan berkedudukan di tempat Pengurus Besar

BAB II
AZAS

Pasal 3

HMI berazas Islam

BAB III
TUJUAN, USAHA DAN SIFAT

Pasal 4

Tujuan

Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wata ’ala.

Pasal 5

Usaha

  1. a. Membina pribadi muslim untuk mencapai akhlaqul karimah.
  2. b. Mengembangkan potensi kreatif, keilmuan, sosial dan budaya.
  3. c. Mempelopori pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemaslahatan masa depan ummat manusia.
  4. d. Memajukan kehidupan umat dalam mengamalkan Dinnul Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  5. e. Memperkuat ukhuwah Islamiyah sesama Umat Islam sedunia.
  6. f. Berperan aktif dalam dunia kemahasiswaan, perguruan tinggi dan kepemudaan untuk menopang pembangunan nasional
  7. g. Usaha-usaha lain yang tidak bertentangan dengan huruf (a) s.d. (e) dan sesuai dengan azas, fungsi, dan peran organisasi serta berguna untuk mencapai tujuan organisasi.

Pasal 6

Sifat

HMI bersifat independen

BAB IV

STATUS FUNGSI DAN PERAN

Pasal 7

Status

HMI adalah organisasi mahasiswa

Pasal 8

Fungsi

HMI berfungsi sebagai organisasi kader

Pasal 9

Peran

HMI berperan sebagai organisasi perjuangan

Saduran II:

(mengenai beberapa tafsir penjelasan AD HMI)

TENTANG ISLAM SEBAGAI AZAS HMI

“Hari ini telah Kusempurnakan bagi kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu: (QS. Al-Maidah : 3).

“Dan mereka yang berjuang dijalan-Ku (kebenaran), maka pasti Aku tunjukkan jalannya (mencapai tujuan) sesungguhnya Tuhan itu cinta kepada orang-orang yang selalu berbuat (progresif) (QS. Al-Ankabut : 69).

Islam sebagai ajaran yang haq dan sempurna hadir di bumi diperuntukkan untuk mengatur pola hidup manusia agar sesuai fitrah kemanusiaannya yakni sebagai khalifah di muka bumi dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata ke hadirat-Nya.

Iradat Allah Subhanu Wata’ala, kesempurnaan hidup terukur dari personality manusia yang integratif antara dimensi dunia dan ukhrawi, individu dan sosial, serta iman, ilmu dan amal yang semuanya mengarah terciptanya kemaslahatan hidup di dunia baik secara induvidual maupun kolektif.

Secara normatif Islam tidak sekedar agama ritual yang cenderung individual akan tetapi merupakan suatu tata nilai yang mempunyai komunitas dengan kesadaran kolektif yang memuat pemaham/kesadaran, kepentingan, struktur  dan pola aksi bersama demi tujuan-tujuan politik.

Substansi pada dimensi kemasyarakatan, agama memberikan spirit pada pembentukan moral dan etika. Islam yang menetapkan Tuhan dari segala tujuan menyiratkan perlunya peniru etika ke Tuhanan yang meliputi sikap rahmat (Pengasih), barr (Pemula), ghafur (Pemaaaf), rahim (Penyayang) dan (Ihsan) berbuat baik. Totalitas dari etika tersebut menjadi kerangka pembentukan manusia yang kafah (tidak boleh mendua) antara aspek ritual dengan aspek kemasyarakatan (politik, ekonomi dan sosial budaya).

Adanya kecenderungan bahwa peran kebangsaan Islam mengalami marginalisasi dan tidak mempunyai peran yang signifikan dalam mendesain bangsa merupakan implikasi dari proses yang ambigiutas dan distorsif. Fenomena ini ditandai dengan terjadinya mutual understanding antara Islam sebagai agama dan Pancasila sebagai ideologi. Penempatan posisi yang antagonis sering terjadi karena berbagai kepentingan politik penguasa dari politisi-politisi yang mengalami split personality.

Kelahiran HMI dari rahim pergolakan revolusi phisik bangsa pada tanggal 5 Februari 1974 didasari pada semangat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islaman dalam berbagai aspek ke Indonesian.

Semangat nilai yang menjadi embrio lahirnya komunitas Islam sebagai interest group (kelompok kepentingan) dan pressure group (kelompok penekanan). Dari sisi kepentingan sasaran yang hendak diwujudkan adalah terutangnya nilai-nilai tersebut secara normatif pada setiap level kemasyarakatan, sedangkan pada posisi penekan adalah keinginan sebagai pejuang Tuhan (sabilillah) dan pembelaan mustadh’afin.

Proses internalisasi dalam HMI yang sangat beragam dan suasana interaksi yang sangat plural menyebabkan timbulnya berbagai dinamika ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dengan didasari rasionalisasi menurut subyek dan waktunya.

Pada tahun 1955 pola interaksi politik didominasi pertarungan ideologis antara nasionalis, komunis dan agama (Islam). Keperluan sejarah (historical necessity) memberikan spirit proses ideologisasi organisasi. Eksternalisasi yang muncul adalah kepercayaan diri organisasi untuk “bertarung” dengan komunitas lain yang mencapai titik kulminasinya pada tahun 1965.

Seiring dengan kreatifitas intelektual pada Kader HMI yang menjadi ujung tombak pembaharuan pemikiran Islam dan proses transformasi politik bangsa yang membutuhkan suatu perekat serta ditopang akan kesadaran sebuah tanggung jawab kebangsaan, maka pada Kongres ke-X HMI di Palembang, tanggal 10 Oktober 1971 terjadilah proses justifikasi Pancasila dalam mukadimah Anggaran Dasar.

Orientasi aktifitas HMI yang merupakan penjabaran dari tujuan organisasi menganjurkan terjadinya proses adaptasi pada jamannya. Keyakinan Pancasila sebagai keyakinan ideologi negara pada kenyataannya mengalami proses stagnasi. Hal ini memberikan tuntutan strategi baru bagi lahirnya metodologi aplikasi Pancasila. Normatisasi Pancasila dalam setiap kerangka dasar organisasi menjadi suatu keharusan agar mampu mensuport bagi setiap institusi kemasyarakatan dalam mengimplementasikan tata nilai Pancasila.

Konsekuensi yang dilakukan HMI adalah ditetapkannya Islam sebagai identitas yang mensubordinasi Pancasila sebagai azas pada Kongres XVI di Padang, Maret 1986.

Islam yang senantiasa memberikan energi perubahan mengharuskan para penganutnya untuk melakukan invonasi, internalisasi, eksternalisasi maupun obyektifikasi. Dan yang paling fundamental peningkatan gradasi umat diukur dari kualitas keimanan yang datang dari kesadaran paling dalam bukan dari pengaruh eksternal. Perubahan bagi HMI merupakan suatu keharusan, dengan semakin meningkatnya keyakinan akan Islam sebagai landasan teologis dalam berinteraksi secara vertikal maupun horizontal, maka pemilihan Islam sebagai azas merupakan pilihan dasar dan bukan implikasi dari sebuah dinamika kebangsaan.

Demi tercapainya idealisme ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, maka HMI bertekad Islam dijadikan sebagai doktrin yang mengarahkan pada peradaban secara integralistik, trasedental, humanis dan inklusif. Dengan demikian kader-kader HMI harus berani menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta prinsip-prinsip demokrasi tanpa melihat perbedaan keyakinan dan mendorong terciptanya penghargaan Islam sebagai sumber kebenaran yang paling hakiki dan menyerahkan semua demi ridho-Nya.

TAFSIR TUJUAN

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

PENDAHULUAN

Tujuan yang jelas diperlukan untuk suatu organisasi, hingga setiap usaha yang dilakukan oleh organisasi tersebut dapat dilaksanakan dengan teratur. Bahwa tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh suatu motivasi dasar pembentukan, status dan fungsinga dalam totalitas dimana ia berada. Dalam totalitas kehidupan bangsa Indonesia, maka HMI adalah organisasi yang menjadikan Islam sebagai sumber nilai. Motivasi dan inspirasi bahwa HMI berstatus sebagai organisasi mahasiswa, berfungsi sebagai organisasi kader dan yang berperan sebagai organisasi perjuangan serta bersifat independen.

Pemantapan fungsi kekaderan HMI ditambah dengan kenyataan bahwa bangsa Indonesia sangat kekurangan tenaga intelektual yang memiliki keseimbangan hidup  yang terpadu  antara pemenuhan tugas duniawi  dan ukhrowi, iman dan ilmu, individu dan masyarakat, sehingga peranan kaum intelektual yang semakin besar dimasa mendatang merupakan kebutuhan yang  paling mendasar.

Atas faktor tersebut, maka HMI  menetapkan tujuannya sebagaimana dirumuskan dalam pasal 4. AD ART HMI yaitu :

“TERBINANYA INSAN AKADEMIS, PENCIPTA, PENGABDI YANG BERNAFASKAN ISLAM DAN BERTANGGUNG JAWAB ATAS TERWUJUDNYA MASYARAKAT ADIL MAKMUR YANG DIRIDHOI ALLAH SWT”.

Dengan rumusan tersebut,  maka  pada hakekatnya HMI bukanlah organisasi massa dalam pengertian fisik dan kualitatif, sebaliknya HMI secara kualitatif  merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan ide, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif.

MOTIVASI  DASAR KELAHIRAN  DAN TUJUAN ORGANISASI

Sesungghnya Allah SWT  telah mewahyukan Islam sebagai  agama yang Haq dan sempurna untuk mengatur umat manusia agar berkehidupan sesuai dengan fitrahnya sebagai Khalifatullah di muka bumi dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata kehadiratnya.

Kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia tersebut adalah kehidupan yang seimbang dan terpadu  antara pemenuhan dan kalbu, iman dan ilmu, dalam mencapai kebaha giaan  hidup di dunia dan ukhrowi. Atas keyakinan ini, maka  HMI menjadikan Islam selain sebagai motivasi dasar kelahiran juga sebagai sumber nilai, motivasi dan inpirasi. Dengan demikian Islam bagi HMI  merupakan pijakan dalam menetapkan tujuan dari usaha organisasi HMI.

Dasar Motivasi yang paling dalam bagi HMI adalah ajaran Islam. Karena Islam adalah ajaran fitrah, maka  pada dasarnya tujuan dan mission Islam adalah juga merupakan tujuan daripada kehidupan manusia yang fitri, yaitu tunduk kepada fitrah kemanusiaannya.

Tujuan kehidupan manusia yang fitri adalah kehidupan yang menjamin adanya kesejahteraan jasmani dan rohani secara seimbang atau dengan kata lain kesejahteraan materiil dan kesejahteraan spirituil.

Kesejahteraan yang akan terwujud dengan adanya amal saleh (kerja kemanusiaan) yang dilandasi dan dibarengi dengan keimanan yang benar. Dalam amal kemanusiaan inilah manusia akan dapat kebahagian dan kehidupan yang sebaik-baiknya. Bentuk  kehidupan yang ideal secara sederhana  kita rumuskan dengan “kehidupan yang adil dan makmur”.

Untuk menciptakaan kehidupan yang demikian. Anggaran dasar menegaskan kesadaran mahasiswa Islam Indonesia untuk merealisasikan nilai-nilai  Ketuhanan  Yang Maha  Easa, Kemanusian Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah Dalam Kebijaksanaan/Perwakilan serta mewujudkan Keadilan Bagi Seluruh Indonesia dalam rangka mengabdikan diri  kepada Allah SWT.

Perwujudan daripada pelaksanaan  nilai-nilai tersebut adalah  berupa amal saleh atau kerja kemanusiaan. Dan kerja kemanusiaan ini akan terlaksana secara benar dan sempurna apabila dibekali dan didasari oleh iman dan ilmu pengatahuan. Karena inilah hakekat tujuan HMI tidak lain adalah pembentukan manusia yang beriman dan berilmu serta mampu menunaikan tugas kerja kemanusiaan (amal saleh). Pengabdian dan bentuk amal saleh inilah pada hakekatnya tujuan hidup manusia, sebab dengan melalui kerja kemanusiaan, manusia mendapatkan kebahagiaan.

BASIC DEMAND BANGSA INDONESIA

Sesunguhnya kelahiran HMI dengan rumusan tujuan seperti pasal 4 Anggaran Dasar tersebut adalah dalam  rangka menjawab dan memenuhi kebutuhan dasar (basic need) bangsa Indonesia setelah mendapat kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 guna  memformulasikan dan merealisasikan cita-cita hidupnya. Untuk memahami kebutuhan dan tuntutan tersebut maka kita perlu melihat dan memahami keadaan masa lalu dan kini. Sejarah Indonesia dapat kita bagi dalam 3 (tiga) periode yaitu:

a)  Periode (Masa) Penjajahan

Penjajahan pada dasarnya adalah perbudakaan. Sebagai bangsa terjajah sebenarnya bangsa Indonesia pada waktu itu telah kehilangan kemauan dan kemerdekaan sebagai hak asasinya. Idealisme dan tuntutan bangsa Indonesia pada waktu itu adalah kemerdekaan. Oleh karena itu timbullah pergerakan nasional dimana pimpinan-pimpinan yang dibutuhkan adalah mereka yang mampu menyadarkan hak-hak asasinya sebagai suatu bangsa.

b). Periode (Masa) Revolusi

Periode ini adalah masa  merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa  serta didoorong oleh keinginan yang luhur maka bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam periode ini yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia adalah adanya persatuan solidaritas dalam bentuk mobilitas kekuatan fisik guna melawan dan menghancurkan penjajah. Untuk itu dibutuhkan adalah “solidarity making” diantara seluruh kekuatan nasional sehingga dibutuhkan adanya pimpinan nasional tipe solidarity maker.

c)  Periode (Masa) Membangun

Setelah Indonesia merdeka dan kemerdekaan itu mantap berada ditangannya maka timbullah cita-cita dan idealisme sebagai manusia yang bebas dapat direalisir dan diwujudkan. Karena periode ini adalah periode pengisian kemerdekaan, yaitu guna menciptakan masyarakat atau kehidupan yang adil dan makmur. Maka mulailah pembangunan nasional. Untuk melaksanakan pembangunan, faktor yang sangat diperlukan adalah ilmu pengetahuan.

Pimpinan nasional yang dibutuhkan adalah negarawan yang “problem solver” yaitu tipe “administrator” disamping ilmu pengetahuan diperlukan pula adanya iman/akhlak  sehingga mereka mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan (amal saleh). Manusia yang demikian mempunyai garansi yang obyektif untuk menghantarkan bangsa Indonesia ke dalam suatu kehidupan yang sejahtera adil dan makmur serta kebahagiaan. Secara keseluruhan basic demand bangsa Indonesia adalah terwujudnya bangsa yang  merdeka, bersatu dan berdaulat, menghargai HAM, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan  dengan tegas tertulis dalam Pembukaan UUD  1945 dalam alinea kedua.

Tujuan 1 dan 2 secara formal telah kita  capai tetapi tujuan ke-3 sekarang sedang kita perjuangkan. Suatu masyarakat atau kehidupan yang adil dan makmur  hanya akan ter bina dan terwujud  dalam suatu pembaharuan dan pembangunan terus menerus yang dilakukan oleh manusia-manusia yang beriman, berilmu pengetahuan dan berkepribadian, dengan mengembangkan nilai-nilai kepribadian bangsa.

KUALITAS INSAN CITA HMI

Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI  di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan  berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. Kualitas tersebut sebagaimana dalam pasal tujuan (pasal 5  AD HMI)  adalah sebagai berikut :

1.   Kualitas Insan Akademis

  • · Berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
  • Memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Dia selalu berlaku dan menghadapi suasana sekelilingnya  dengan kesadaran.
  • · Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis  maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara  bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan.

2.   Kualitas Insan Pencipta : Insan Akademis, Pencipta

  • · sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan  bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan-gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan  dan pembaharuan.
  • · Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi, kreatifnya dapat berkembang dan menentukan bentuk yang indah-indah.
  • · Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusiaan yang disemangati ajaran islam.

3.   Kualitas Insan Pengabdi : Insan Akdemis, Pencipta, Pengabdi

  • · Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
  • · Sadar  membawa tugas insan pengabdi, bukannya hanya membuat dirinya baik tetapi juga membuat kondisi sekelilingnya menjadi baik.
  • · Insan akdemis,  pencipta dan mengabdi adalah yang bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita dan ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.

4Kualitas Insan yang  bernafaskan islam : Insan Akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan Islam

  • · Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menajdi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan nilai-nilai universal Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.
  • · Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema pada dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim. Kualitas insan ini telah mengintegrasikan masalah suksesnya pembangunan nasional bangsa kedalam suksesnya perjuangan umat islam Indonesia dan sebaliknya.

5.  Kualitas Insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT :

  • · Insan akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi oleh Allah SWT.
  • · Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat yang dari perbuatannya sadar  bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.
  • · Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis.
  • · Rasa tanggung jawab, taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
  • · Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
  • · Percaya pada diri sendiri  dan sadar akan kedudukannya sebagai “khallifah fil ard”  yang harus melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan.

Pada pokoknya insan cita HMI merupakan “man of future insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan  berpandangan jauh, bersikap terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara kooperatif bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. Ideal tipe dari hasil perkaderan HMI adalah “man of inovator” (duta-duta pembantu). Penyuara “idea of progress” insan yang berkeperibadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur tidak takabur dan bertaqwa kepada Allah Allah SWT. Mereka  itu manusia-manusia uang beriman berilmu dan mampu  beramal  saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil)

Dari lima kualitas insan cita tersebut pada dasarnya harus memahami dalam tiga kualitas insan Cita yaitu kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta dan kualitas insan pengabdi. Ketiga insan kualitas pengabdi tersebut merupakan insan islam yang terefleksi dalam sikap senantiasa bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT.

TUGAS ANGGOTA HMI

Setiap anggota HMI berkewajiban berusaha mendekatkan kualitas dirinya pada kualitas insan cita HMI seperti tersebut diatas. Tetapi juga sebaliknya HMI berkewajiban untuk memberikan pimpinan-pimpinan, bimbingan dan kondusif bagi perkembangan potensi kualitas pribadi-pribadi anggota-anggota dengan memberikan fasilitas-fasilitas dan kesempatan-kesempatan. Untuk setiap anggota HMI harus mengembangkan sikap mental pada dirinya yang independen untuk itu :

  • · Senantiasa  memperdalam hidup kerohanian agar menjadi luhur dan bertaqwa kepada Allah SWT.
  • · Selalu tidak puas dan selalu mencari kebenaran
  • · Teguh dalam pendirian dan obyektif rasional menghadapi pendirian yang berbeda.
  • · Bersifat kritis dan berpikir bebas kreatif
  • · Hal tersebut akan diperoleh antara lain dengan jalan:

°     Senantiasa mempertinggi tingkat pemahaman ajaran Islam yang dimilikinya dengan penuh gairah.

°     Aktif berstudi dalam Fakultas yang dipilihnya.

°     Mengadakan tentir club untuk studi ilmu jurusannya dan club studi untuk masalah kesejahteraan dan kenegaraan

°     Salalu hadir dalam forum ilmiah

°     Memelihara kesehatan badan dan aktif mengikuti karya bidang kebudayaan

°     Selalu berusaha mengamalkan dan aktif dalam memngambil peran dalam kegiatan HMI

°     Mengadakan kalaqah-kalaqah perkaderan dimasjid-masjid kampus

Bahwa tujuan HMI sebagai dirumuskan dalam pasal AD HMI pada hakikatnya adalah merupakan tujuan dalam setiap Anggota HMI. Insan cita HMI adalah gambaran masa depan HMI. Suksesnya seorang HMI dalam membina dirinya untuk mencapai Insan Cita HMI berarti dia telah mencapai tujuan HMI.

Insan cita HMI pada suatu waktu akan merupakan “Intelektual community” atau kelompok intelegensi yang mampu merealisasi cita-cita umat dan bangsa dalam suatu kehidupan masyarakat yang sejahtera spritual adil dan makmur serta bahagia (masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT).

Melalui beberapa penggalan Anggaran Dasar HMI (AD HMI) serta beberapa memori penjelasannya, khususnya tentang Islam sebagai azas HMI dan tujuan serta beberapa usaha yang harus dilakukan untuk mewujudkan tujuan HMI, yang diambil dari hasil-hasil kongres di atas, setelah kita lihat lebih ke dalam, maka kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan apa yang menjadi misi HMI kini dan ke depan, kemudian mengenai relevansi dan kontekstualitasnya. Atau lebih sederhananya pertanyaan tentang mengapa dan untuk siapa sebenarnya HMI ada?

HMI MENJAWAB TANTANGAN JAMAN

Beberapa hal yang harus dilakukan oleh HMI adalah; Pertama, HMI harus meletakkan kemudian memantapkan kembali ideologinya sebagai basis nilai gerakannya demi mewujudkan tujuannya. Kedua, HMI harus mampu merumuskan metodologi gerakan yang relevan sehingga efektif. Ketiga, untuk dapat membumikan ide dan ruh perjuangan HMI, maka HMI harus diartikulasikan ulang melalui objektifikasi.[8] Keempat, HMI tetap harus bersikap terbuka dan oto-kritik (mengkritik dan dikritik, inklusifisme positif). Karena dengan itulah HMI tetap sebagai agent of change dan agent of social control.[9] HMI bukan partai politik, juga bukan LSM, oleh karena itu dalam setiap aktifitas berfikir serta gerakannya harus meletakkan PERKADERAN dan PERJUANGAN tetap sebagai misinya, sebagai fungsi dan perannya, sebagai jiwa gerakan.

Sebagai organisasi mahasiswa Islam, HMI harus tetap mampu menjaga keseimbangan antara intelektual (akademik) dan gerakan sosial (aktivisme), yang ditopang oleh basis moral dan spiritual. Ke depan gerakan HMI adalah gerakan Intelektual-Moral-Spiritual (INTERAL). Sebab tiga hal itulah yang juga melatarbelakangi berdirinya HMI, sekaligus sebagai ruh perkaderan dan perjuangan HMI dulu, kini, dan esok. HMI ke depan harus meletakkan identitas dirinya sebagai Intelektual-Aktifis, atau Scholar Activist.

PENUTUP

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, tentu apa yang kami sampaikan bukanlah petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis bagi sebuah organisasi besar dan hebat seperti HMI. Meskipun demikian, semoga apa yang kami sampaikan mampu menjadi bahan fikiran untuk ke depan HMI menentukan titik pijak gerakannya, khususnya HMI Cabang Yogyakarta.

Selamat datang di HMI, selamat berjuang bersama kami, semoga apa yang kita fikirkan nanti, juga apa yang menjadi tindakan kita, tetap semata-mata hanya demi mendapatkan ridhlo dari Allah SWT, Amin. Terakhir, mengutip M. Natsir, “Jangan pernah berhenti mendayung, jika engkau tidak ingin terbawa arus”. Tetap selalu ikhlas dalam berfikir dan bertindak, dengan demikian tugas hidup manusia menjadi sangat sederhana, yaitu beriman, berilmu dan beramal. Selamat berjuang, go ahead HMI. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. WM.


[1] Disampaikan dalam Latihan Kader I (LK I) HMI Komisariat di lingkungan HMI Cabang Yogyakarta.

[2] Kader HMI Cabang Yogyakarta. 081227880323/087839753004, alamat email: wahyoe_rakjat@yahoo.co.id.

[3] PKI sebagai musuh HMI masih harus ditinjau ulang kevalidannyaa. Apakah PKI yang dimaksud adalah organisasinya, atau personalnya, atau ajaran dan nilai sosialismenya?

[4] PB HMI, Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI (NDP HMI), (Jakarta: PB HMI, 1971), pada paragraph terakhir.

[5] Kalau mau jujur, HMI kini memang semakin pragmatis dan cenderung kepada hal-hal yang bersifat instant, berbeda dengan HMI sejati.

[6] PB HMI, Hasil-hasil Kongres HMI ke-XXVI di Palembang, tanggal 28 Juli 2008, (Jakarta: PB HMI, 2009).

[7] PB HMI, Hasil-hasil Kongres HMI ke-XXVI di Palembang, tanggal 28 Juli 2008, (Jakarta: PB HMI, 2009).

[8] Yang dimaksud dengan objektifikasi adalah bagaimana HMI, sebagaimana Islam, pada wilayah dalam pembumiannya, atau wilayah aktualisasinya, harus tidak hanya dirasakan “rahmatnya” oleh Umat Islam atau anggota HMI saja, namun seluruh masyarakat yang ada, terlepas apakah mereka Islam atau bukan, HMI atau bukan HMI. Dan mereka merasakan perjuangan dan hasil perjuangan HMI sebagai hal yang wajar dan rasional, tanpa menganggap bahwa itu adalah hasil atau milik HMI. Di sanalah letak dari ke-limardhatilah-an HMI. Mengenai objektifikasi ini, dapat juga ditemukan penjelasannya dalam karangan Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006). Atau dapat juga dilihat dalam Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi, (Bandung: Mizan, 2004).

[9] Jangan sampai identitas sebagai agen perubahan sosial sekaligus agen control sosial hanya menjadi klaim dari HMI. Namun bagaimana identitas tersebut tersandang melalui fikiran dan gerakan yang murni dilakukan olah HMI untuk Islam, Mahasiswa, dan Indonesia secara keseluruhan.

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.